2 Momen Terputusnya Wahyu di Zaman Nabi Muhammad ﷺ

@via unsplash

Al-Quran merupakan firman Allah ﷻ yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui perantara malaikat Jibril. Kurun waktu yang dibutuhkan sejak ayat pertama turun hingga yang terakhir adalah sekitar 23 tahun. Hal tersebut tentunya bukan tanpa alasan, sebab ada hikmah tersendiri yang Allah ﷻ sediakan, sebagaimana termaktub dalam firmanNya:

وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ ٱلْقُرْءَانُ جُمْلَةً وَٰحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَٰهُ تَرْتِيلًا

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).

Namun tahukah anda bahwa terdapat suatu peristiwa menarik dalam sejarah diturunkannya Al-Quran? yaitu bahwa wahyu sempat terhenti selama beberapa saat dalam 2 kesempatan. Momen penting ini nantinya dikenal oleh para ulama dengan momen “Fatroh Al-Wahyu”.

Momen Pertama

Momen pertama dari peristiwa terputusnya wahyu terjadi setelah turunnya wahyu pertama, yaitu surat Al-‘Alaq ayat 1 sampai 5. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dan Muslim rohimahumalloh, Rasululloh ﷺ bersabda:

ثُمَّ فَتَرَ عَنِّى الْوَحْىُ فَتْرَةً ، فَبَيْنَا أَنَا أَمْشِى سَمِعْتُ صَوْتًا مِنَ السَّمَاءِ ، فَرَفَعْتُ بَصَرِى قِبَلَ السَّمَاءِ ، فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِى جَاءَنِي بِحِرَاءٍ قَاعِدٌ عَلَى كُرْسِىٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ ، فَجُئِثْتُ مِنْهُ ، حَتَّى هَوَيْتُ إِلَى الأَرْضِ ، فَجِئْتُ أَهْلِي فَقُلْتُ : زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي . فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ إِلَى فَاهْجُرْ

“Kemudian wahyu terputus dariku, hingga suatu ketika aku mendengar sebuah suara dari langit saat tengah berjalan, aku pun mendongak keatas, ternyata Malaikat yang mendatangiku di Gua Hiro tengah duduk diatas sebuah kursi antara langit dan bumi. Aku merasa amat takut hingga tersungkur ke tanah lalu segera menemui keluargaku seraya berkata: ‘Selimuti aku, selimuti aku’, lalu aku pun diselimuti hingga turunlah firman Allah ta’ala: يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ sampai ayat فَاهْجُرْ ”
(HR Bukhori Muslim)

Sabda Nabi ﷺ: “Malaikat yang mendatangiku di Gua Hiro” menunjukkan bahwa kejadian tersebut berlangsung setelah beliau menerima wahyu pertama di Gua Hiro.

Momen Kedua

Peristiwa kedua terjadi sebelum turunnya surat Adh-Dhuha, hal ini berdasarkan hadits yang dibawakan oleh sahabat Jundub bin Sufyan rhodiyallohu ‘anhu:

اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَقُمْ لَيْلَتَيْنِ – أَوْ ثَلاَثًا – ، فَجَاءَتْ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ : يَا مُحَمَّدُ، إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ شَيْطَانُكَ قَدْ تَرَكَكَ ، لَمْ أَرَهُ قَرِبَكَ مُنْذُ لَيْلَتَيْنِ – أَوْ ثَلاَثَةٍ – فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : وَالضُّحَى * وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى * مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى 

Rasulullah wasallam menderita sakit hingga beliau tidak bisa bangun selama dua malam atau tiga. Lalu datanglah seorang wanita seraya berkata, “Wahai Muhammad, aku benar-benar mengharap bahwa setanmu telah meninggalkanmu. Sebab, aku tidak lagi melihatnya semenjak dua hari ini atau tiga hari”. Kemudian Allah subhanahu wata’ala menurunkan firmanNya: وَالضُّحَى * وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى * مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى
(HR Bukhori Muslim)

Terdapat sebuah kejadian menarik pada momen yang kedua ini, dimana saat Malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menyampaikan wahyu surat Adh-Dhuha tersebut, Rasululloh ﷺ merasakan kegembiraan yang amat luar biasa. Hingga tepat setelah Malaikat Jibril selesai membacakan ayat terakhir pada surat Adh-Dhuha, ucapan takbir “Allahu Akbar” penuh bahagia meluncur dari mulut beliau.

Kejadian menarik ini nantinya mengawali sebuah sunnah yang saat ini sudah banyak dilupakan oleh kaum muslimin, yaitu membaca takbir diantara surat-surat pendek mulai dari Adh-Dhuha hingga An-Nas saat hendak mengkhatamkan Al-Quran. Pembahasan seputar takbir ini sudah pernah kami singgung pada postingan: Berencana Khatam Al-Quran? Jangan lupa Sunnah Satu Ini.

Jangka Waktu Terputusnya Wahyu

Para ulama berbeda pendapat tentang berapa lama malaikat Jibril tidak mendatangi Nabi Muhammad ﷺ, baik pada momen pertama ataupun kedua. Namun semuanya sepakat bahwa tenggat waktu pada peristiwa pertama lebih panjang dari yang kedua.

Untuk peristiwa pertama, cukup banyak perbedaan pendapat ulama, ada yang menyatakan bahwa tenggat waktu tersebut mencapai 3 tahun, 2 setengah tahun, 2 tahun, 40 hari, 25 hari, 15 hari atau 12 hari.

Adapun untuk peristiwa kedua, para ulama berpendapat hanya berlangsung selama dua atau 3 malam saja.

Hikmah dibalik Peristiwa Ini

Diantara hikmah dari terputusnya wahyu sementara waktu pada peristiwa pertama adalah untuk menghilangkan rasa takut dari diri Nabi Muhammad ﷺ. Sebab peristiwa datangnya malaikat Jibril untuk pertama kali kepada beliau saat menyendiri di gua Hiro cukup membuat kaget.

Sedangkan pada peristiwa kedua, hal tersebut dalam rangka memberikan rasa rindu kepada Nabi Muhammad ﷺ terhadap wahyu illahi yang sempat terhenti untuk sementara waktu. Disamping itu, hal ini juga merupakan sebuah bentuk ujian kepada orang-orang yang beriman kepada beliau, apakah mereka akan tetap diatas keyakinan ataukah justru berpaling darinya.

Semoga Allah subhanahu wata’ala meneguhkan kita diatas keimana hingga ajal menjemput. Amiin.
Wallahu a’lam.

Referensi:

Al-Itqon, As-Suyuthi
Al-Wafi, Abdul Fattah Al-Qodhi

Leave a Reply