6 Faktor Munculnya Aliran Sesat

Dalam sejarah perkembangan Islam telah tercatat munculnya aliran-aliran sesat yang menyimpang dari aqidah ahlusunnah wal jamaah, seperti khawarij, murjiah, mu’tazilah dll.

Terjadinya hal diatas tentunya ada sebab-musabab atau faktor yang melandasi kemunculannya, dan ada baiknya kita mengetahui sebab atau faktor tersebut agar kita dapat menghindarinya atau agar kita dapat menjaga diri sehingga tidak terjerumus kedalamnya. Danejatinya kemunculan aliran-aliran tersebut telah dikabarkan oleh bagian Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam sabdanya,

افْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً ، وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الأُمَّةُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً

“Orang-orang Yahudi telah berpecah belah dalam tujuh puluh satu kelompok dan Nashora berpecah belah menjadi tujuh puluh dua kelompok serta umat ini akan pecah menjadi tujuh puluh tiga kelompok”. (HR. At Tirmidzi no 2640)

Oleh karena itu, di sini kami akan menjelaskan dengan ringkas 6 faktor munculnya aliran sesat terebut, nammun perlu diingat pula bahwa penyebutan 6 faktor ini bukanlah sebagai batasan, dalam artian faktor munculnya aliran sesat ini ada banyak namun kami hanya menyebutkan 6 saja agar tulisan ini tidak menjadi terlalu panjang. Berikut 6 faktor tersebut.

1. Sikap Berlebihan (Ghuluw) dalam Beragama.

Allah Ta’ala berfirman,

یَـٰۤأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ لَا تَغۡلُوا۟ فِی دِینِكُمۡ وَلَا تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّۚ

“Wahai ahli kitab (baca: Yahudi & Nasrani), janganlah kalian melampaui batas (berlebihan) dalam agama kalian, dan jangan kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (QS. An Nisa’: 171)

Dalam ayat yang lain Allah ta’ala berfirman,

قُلۡ یَـٰۤأَهۡلَ ٱلۡكِتَـٰبِ لَا تَغۡلُوا۟ فِی دِینِكُمۡ غَیۡرَ ٱلۡحَق

“Katakanlah (Muhammad), Wahai ahli kitab, jangan kalian berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu.” (QS, Al Maidah: 77)

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

 إيَّاكم والغُلوَّ في الدِّينِ فإنَّهُ أهْلَكَ من كانَ قبلَكُمُ الغلوُّ في الدِّينِ

“Janganlah kalian bersikap berlebihan dalam agama. Sesungguhnya yang menyebabkan binasa orang-orang sebelum kalian hanyalah sikap berlebihan.” (HR. Ibnu Majah no 2473)

هَلَكَ المُتَنَطِّعُونَ قالَها ثَلاثًا

“Binasalah orang-orang yang berlebihan,” beliau mengatakannya sebanyak tiga kali.” (HR. Muslim no 2670)

Secara bahasa ghuluw adalah melampaui batas. Sedang menurut isitilah ghuluw adalah mendudukkan sesuatu di atas kedudukan aslinya.

Contoh aliran sesat yang disebabkan sikap ghuluw ini adalah:

Syi’ah.
Mereka tbersikap ghuluw terhadap sahabat Ali bin Abi Thalib dan Ahlul bait. Bahkan ada di antara mereka yang mengatakan bahwa ‘Ali adalah tuhan, dan Jibril telah melakukan kesalahan dalam menyampaikan wahyu kepada Muhammad bin ‘Abdullah, semestinya kepada ‘Ali bin Abi Thalib.

Khawarij.
Mereka telah bersikap ghuluw (berlebihan) dalam menilai pelaku dosa besar, bahwa menurut mereka pelaku pelaku dosa besar adalah kafir kekal di neraka.

Sufi.
Mereka telah berlebihan dalam beribadah sehingga mereka memandang bahwa orang yang dzikirnya sudah mencapai puncak, ia bakal bisa melebur dengan Rabbul ‘alamin. Inilah keyakinan wihdatul wujud yang kafir itu.

2. Respon (roddul fi’l) Terhadap Aliran Sesat Lainnya.

Ada kalanya ketika seseorang itu melihat suatu aliran sesat, ia ingin merubahnya dan merasa geram dibuatnya. Maka jika ia menolak aliran sesat itu dengan ilmu -dalam hal ini sunnah-, benarlah ia (baca: bid’ah ditolak dengan sunnah). Akan tetapi jika ia menolaknya dengan kebodohan -dalam hal ini bid’ah dan kesesatan- (baca: bid’ah ditolak dengan bid’ah pula), maka akan timbul kesesatan yang lain.

Contoh aliran sesat yang disebabkan roddul fi’l ini adalah:

Murji’ah.
Respon mereka terhadap faham takfir Khawarij. Pendapat mereka terhadap pelaku dosa baik besar maupun kecil imannya tetap sempurna, tidak berkurang sedikit pun. Oleh karena itu menurut faham Murji’ah antara imannya pelaku maksiat seperti pelacur atau pembunuh tak ubahnya seperti imannya para shahabat dan ahli ibadah. Karena iman itu tidak bisa bertambah atau berkurang.

Mu’tazilah.
Respon mereka terhadap faham Khawarij & Murji’ah dalam masalah status pelaku dosa dan maksiat. Dalam masalah ini mereka berpendapat bahwa pelaku dosa besar itu di dunia tidak beriman tapi juga di saat yang sama tidak pula kafir, sedang di akhirat kekal di neraka. Inilah yang dikenal dengan aqidah manzilah baina manzilatain.

3. Konspirasi Orang-Orang Kafir (Makar Al Kuffar).

Di antara sebab munculnya aliran sesat adalah hasil usaha orang-orang kafir yang menyelundup ke dalam wilayah Islam dan membuat profokasi sesat seperti:

  • ‘Abdullah bin Saba’ Al Yahudi, pendiri firqah Syi’ah.
  • Orang-orang kafir sekaligus Inggris yang merupakan tokoh di balik ajaran Ahmadiyyah Qadiyaniyyah.

4. Mendahulukan Akal Daripada Nash Al Quran dan Sunnah.

Bisa jadi seseorang yang tersesat itu disebabkan ketertipuannya terhadap akal-akal kerdil mereka. Karena mereka menyangka bahwa akal itu tidak mungkin salah. Maka jika ada nash Al Quran atau Sunah yang tidak sesuai dengan akal mereka, berarti nash harus diotak-atik agar selaras dengan akal mereka yang rusak itu. Nah, dengan ke-PeDe-annya inilah seseorang bisa tersesat dari jalan yang lurus.

Mereka tidak memiliki prinsip tunduk pada dalil dan berkata,

سمعنا وأطعنا

“Kami mendengar dan kami taat.”

Namun prinsip yang mereka pengang adalah,

سمعنا وفكرنا، وإن توفقنا أطعنا

“Kami mendengar dan kami pikirkan (pikir-pikir dulu), dan jika nampak cocok (dengan akal) kami taat.”

Padahal Al Quran dan Sunnah itu tidak mungkin menyelisihi akal yang masih sehat. Hanya saja mungkin akal itu sendiri yang sakit atau sehat namun karena akal manusia itu terbatas, tidak semua hal bisa dipikirkan manusia. Maka kalau sudah seperti ini, seseorang tidak diperbolehkan memaksakan diri untuk memikirkannya dan menyerahkan ilmunya kepada Allah Ta’ala.

Di antara aliran sesat yang muncul karena faktor ini adalah:

  • Mu’tazilah, aliran yang satu ini sudah tidak asing lagi di telinga kita, bahwa mereka sudah bisa dikenal dengan aliran rasionalisnya.
  • JIL atau Jaringan Islam Liberal.

5. Diterjemahkannya Buku-Buku Yunani ke Dalam Bahasa ‘Arab.

Hail ini terutama terjadi di masa pemerintahan Khalifah Al Ma’mun. yang kemudian di masa itu Mu’tazilah menampakkan panjinya yang berkiblat kepada ajaran-ajaran Yunani kuno ala Aristoteles dan murid-muridya.

6. Menjamurnya kebodohan di tengah kaum muslimin.

Faktor yang satu ini tidak perlu dijelaskan lagi karena sudah sangat jelas. Hal ini pun sudah diwanti-wanti oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam sabdanya

إن الله لا يَقْبِضُ العلمَ انتزاعاً ينتزعُه من العباد، ولكنْ يقبِضُ العلم بقبض العلماء، حتى إذا لم يبقَ عالماً؛ اتَّخذ الناس رؤوساًَ جُهَّالا، فسُئِلوا ؟ فأفتوا بغير العلم، فضلّوا وأضلوا.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari manusia. Namun Allah akan mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa lagi seorang berilmu (di tengah mereka), manusia mengangkat para pemimpin yang jahil. Mereka ditanya, dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Hingga akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (orang lain).” (HR. Bukhori dan Muslim)

**

Catatan mata pelajaran Ilmu Kalam, kelas dua MA Hamalatul Quran Yogyakart bersama Ustadzuna Aris Munandar hafizhahullah dengan beberapa tambahan seperlunya.

Leave a Reply