Ambil Sanad Surat Al-Fatihah atau Yasin saja, Bolehkah?

Alhamdulillah, washolatu wassalam ‘ala rosulillah, Amma Ba’du.

Belakangan ini cukup marak berbagai dauroh Al-Quran yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga ataupun perorangan. Sebuah bukti nyata antusias besar kaum muslimin di bumi pertiwi untuk dekat dengan kitabulloh di tengah pandemi seperti ini.

Kategori dan model daurohnya pun bermacam-macam, mulai dauroh tajwid, dauroh khusus pengajar hingga dauroh sanad Al-Quran ataupun berbagai matan tajwid.

Dari berbagai jenis dauroh yang ada, terdapat satu model dauroh yang akhir-akhir ini cukup ramai diperbincangkan, yaitu dauroh sanad surat Al-Fatihah atau sanad surat tertentu saja.

Gambaran dari dauroh ini sendiri secara singkatnya ialah sang pemateri akan memulai dengan menjelaskan berbagai macam kesalahan dalam membaca surat Al-Fatihah serta cara memperbaikinya. Selain itu, para peserta juga mendapatkan “bonus” berupa sanad surat Al-fatihah dari pemateri yang bersambung hingga Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam. Sungguh amat menggiurkan tentunya.

Pemilihan surat Al-Fatihah ini sendiri juga bukan tanpa alasan, sebab kita tahu bersama bahwa surat yang bergelar Ummu Al-Quran ini merupakan salah satu rukun dalam sholat. Oleh karenanya, urgensinya dalam diri seorang muslim tentunya amatlah besar. Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak sah sholat seseorang yang tidak membaca surat Al-fatihah” (HR Al-Bukhori)

Berangkat dari sini, muncullah sebuah pertanyaan yang mengganjal di hati sebagian pencinta Al-Quran:

“Apakah memberi atau mengambil sanad satu surat tertentu saja merupakan hal yang wajar? Apakah ada contohnya dari ulama terdahulu?”.

Menanggapi berbagai pertanyaan serupa, penulispun kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada salah seorang Muqri senior di Masjid Nabawi, yaitu Syaikh Ihab Al-Fikri hafidzohulloh. Jawaban ulama ahli qiroat dengan segudang karya ini lah yang akan kami tuangkan dalam artikel kali ini.

Bagi anda yang ingin mendengarkan audio jawaban beliau dalam masalah ini, bisa dilihat di akhir artikel.

Beliau hafidzohulloh menjelaskan bahwa memberi atau mengambil sanad suatu surat tertentu saja sudah ada contohnya sejak zaman dahulu. Dimana hal ini tersirat dalam perkataan Ibnul Jazari rohimahulloh dalam kitabnya An-Nasyr. Lebih tepatnya saat beliau memaparkan berbagai sanad Al-Quran dan Qiroat yang beliau miliki.

Uniknya, ditengah pembahasan tersebut beliau kemudian memaparkan sanad beliau dalam surat Ash-Shof dan surat Al-Kautsar. Bahkan beliau cukup bangga dengan mengungkapkan bahwa sanad tersebut merupakan salah satu sanad tertinggi yang beliau raih. Dimana antara beliau dan Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam terpaut 13 orang untuk surat As-Shof dan 11 orang untuk surat Al-Kautsar. Perhatikan ungkapan beliau dibawah ini:

فوقعت لي سورة الصف مسلسلة إلى النبي – صلى الله عليه وسلم – بثلاثة عشر رجلا ثقات وسورة الكوثر مسندة بأحد عشر رجلا، وهذا أعلى ما يكون من جهة القرآن.

“Aku mendapatkan sanad surat Ash-Shoff yang bersambung hingga Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dengan perantara 13 orang, adapun untuk surat Al-Kautsar, maka hanya terpaut 11 orang, dan ini merupakan sanad tertinggi untuk Al-Quran”

Ibnul Jazari rohimahulloh bahkan menyebutkan secara mendetail dimana dan kapan beliau talaqqi surat tersebut.

Perhatikan silsilah sanad Ibnul Jazari untuk kedua surat tersebut:

Surat Ash-Shof

Untuk surat As-Shof, Ibnul Jazari mendapatkan sanadnya dari banyak ulama, diantaranya ialah Abu Ishaq Ibrohim bin Muhammad Al-Muadzin rohimahulloh. Proses talaqqi tersebut terjadi pada hari ahad 4 Dzulhijjah 792 H di masjidil harom. Beginilah kira-kira silsilah sanad tersebut:

Ibnul Jazari – (1) Abu Ishaq Ibrohim bin Muhammad Al-Muadzin – (2) Abu Al-‘Abbas Ahmad Ash-Sholihi – (3) Abu Al-Munajja Al-Harimi – (4) Abu Al-Waqti Ash-Shufi – (5) Abu Al-Hasan Ad-Dawudi – (6) Abu Muhammad As-Sarkhosi – (7) Abu ‘Imron As-Samarqondi – (8) Abu Muhammad Ad-Diromi – (9) Muhammad Ibnu Katsir – (10) Al-Auza’i – (11) Yahya Ibnu Abi Katsir – (12) Abu Salamah – (13) Abdulloh bin Salam rhodiyallohu ‘anhu – Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.

Surat Al-Kautsar

Adapun untuk sanad surat Al-Kautsar, maka sebagaimana berikut ini:

Ibnul Jazari – (1) Abu ‘Umar Al-Muqoddami Al-Hambali – (2) Abul Hasan Al-hambali – (3) Abu ‘Ali Al-Hambali – (4) Hibatulloh Al-Hambali- (5) Abu ‘Ali Al-Hasan Al-Hambali – (6) Abu Bakar Al-Hambali – (7) Abdulloh bin Al-Imam Ahmad bin Hambal- (8) Imam Ahmad bin Hambal – (9) Muhammad bin Fudhoil – (10) Al-Mukhtar bin Fulful – (11) Anas bin Malik rhodiyallohu ‘anhu – Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.

Ada beberapa poin yang mungkin perlu kita perhatikan dalam hal ini:

1. Orang yang bisa memberikan sanad surat tertentu tentunya adalah mereka yang memang telah memiliki sanad tersebut.
2. Jangan sembarangan memberikan sanad kepada orang lain kecuali memang sudah kita pastikan kualitas bacaan orang tersebut, meskipun hanya sekedar sanad Al-Fatihah. Sebab hal tersebut merupakan sebuah amanah.
3. Sanad pada satu atau beberapa surat saja tentunya berbeda tingkatan dengan seseorang yang mengambil sanad Al-Quran secara keseluruhan.
4. Dalam ijazah sanad yang akan diberikan, hendaknya dituliskan dengan detail proses pengambilan sanadnya. Mulai dari surat apa yang diberikan sanad hingga tanggal dan saksi yang melihat prosesnya.
5. Jika ingin memberikan sanad surat lain selain Al-Fatihah, maka pastikan orang tersebut sudah benar-benar hafal dan menguasai tajwid pada surat tersebut.
6. Orang yang memiliki sanad pada surat tertentu, maka ia hanya akan bisa memberikan sanad pada surat tersebut.

Baca juga: Tak Hafal Quran tapi Ingin Punya Sanad, Mungkinkah?

Kesimpulan

Memberikan atau mengambil sanad untuk satu atau dua surat saja merupakan hal yang tidak mengapa. Sebab sudah ada contohnya dari ulama terdahulu. Namun hendaknya memperhatikan beberapa catatan yang kami sampaikan diatas.

Audio jawaban Syaikh Ihab Fikri hafidzohulloh seputar mengambil sanad surat tertentu.

Semoga Allah subhanahu wata’ala mengaruniakan kepada kita ilmu yang bermanfaat. Amiin.

Referensi:
An-Nasyr, Ibnul Jazari

2 thoughts on “Ambil Sanad Surat Al-Fatihah atau Yasin saja, Bolehkah?

Leave a Reply