Antara Musyawarah dan Istikharah, Manakah yang Didahulukan ?

Dalam syariat Islam kita telah mengenal istilah musyawarah dan istikharah, kedua hal tersebut biasa dilakukan seseorang saat bimbang dalam menentukan pilihan atau membuat sebuah keputusan, perintah bermusyawarah dan istikharah pun telah ada dalam Al Quran dan hadis.

Allah Ta’ala berfirman,


وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Dalam ayat lain Allah berfirman,

وَٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِرَبِّهِمۡ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَمۡرُهُمۡ شُورَىٰ بَيۡنَهُمۡ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ

“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

إذا هم أحدكم بالأمر فيصل رکعتین

“Jika kalian berniat untuk melakukan satu hal, maka hendaklah melaksanakan dua rakaat yang bukan shalat wajib…” (HR Bukhari no. 6382)

Namun manakah yang selayaknya kita dahulukan, musyawarah ataukah istikharah ? Dalam hal ini para Ulama berselisih pendapat tentang mana yang harus didahulukan.

Syeikh Muhamad bin Shaleh al Utsaimin rahimahullah berkata,

والصحيح أن المقدم الاستخارة، فقدم أولا الاستخارة؛ لقول النبي صلى اللّٰه عليه و سلم : إذا هم أحدكم بالأمر فيصل رکعتین … إلى آخره. فقدم أولا الاستخارة، ثم إذا كررتها ثلاث مرات ولم يتبين لك الأمر، فاستشر؛ ثم ما أشير عليك به فقد يكون هذا الذي جعله الله لك فخذ به، وإنما قلنا: إنه يستخير ثلاث مرات ؛ لأن من عادة النبي صلى اللّٰه عليه وسلم أنه إذا دعا دعا ثلاثا، والاستخارة دعاء، وقد لا يتبين للإنسان خیر الأمرين من أول مرة، قد يتبين في أول مرة، أو في الثانية، أو في الثالثة، وإذا لم يتبين فليستشر،

Pendapat yang benar menyatakan bahwa yang lebih utama adalah shalat istikharah terlebih dahulu, kemudian baru dilakukan musyawarah. Dalilnya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika kalian berniat untuk melakukan satu hal, maka hendaklah melaksanakan dua rakaat yang bukan shalat wajib..” (HR Bukhari no. 6382)

Kemudian jika kita sudah mengulangi shalat istikharah sampai tiga kali dan belum jelas pilihan yang terbaik, maka hendaknya bermusyawarah. Hasil musyawarahlah yang hendaknya kita jadikan sebagai pilihan. Shalat istikharah itu bisa diulangi sampai tiga kali, karena kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berdoa adalah mengulangi doa sampai tiga kali. Sedangkan istikharah merupakan doa. Boleh jadi kita tidak mengetahui pilihan yang terbaik pada saat memanjatkan doa istikharah yang pertama. Akan tetapi mungkin juga pilihan yang terbaik sudah kita ketahui pada saat istikharah yang pertama kedua atau ketiga. Jika sampai tiga kali istikharah pilihan terbaik belum diketahui, maka hendaknya bermusyawarah.

Do’a Istikharah

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ

Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya.” (HR. Bukhari no 6382)

Wallahu ta’ala a’lam

 
Referensi:
Syarah Riyadhus Shalihin Cetakan Dar wathan Jilid 4/162

Leave a Reply