Bangga Akan Sesuatu yang Tidak Dimiliki

Terkadang seseorang mengaku memiliki sesuatu hal namun aslinya ia tidak memilikinya, terkadang seseorang membanggakan kedudukan mulia, padahal sejatinya ia tidak memiliki kedudukan tersebut. Orang seperti ini bagaikan menggunakan dua pakaian kedustaan.

Dari Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:

أنَّ امْرَأَةً قالَتْ: يا رَسولَ اللهِ، أَقُولُ إنَّ زَوْجِي أَعْطَانِي ما لَمْ يُعْطِنِي فَقالَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ: المُتَشَبِّعُ بما لَمْ يُعْطَ، كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ

“Ada seorang wanita berkata: wahai Rasulullah, aku pernah mengatakan kepada orang lain bahwa suamiku memberikan sesuatu kepada diriku, padahal itu tidak pernah diberikan. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: orang yang berbangga dengan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan, bagaikan menggunakan dua pakaian kedustaan”. (HR. Muslim no. 2129).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahu ta’ala menjelaskan:

المتشبع: هو الذي يظهر الشبع وليس بشبعان، ومعناها هنا أنه يظهر أنه حصل له فضيلة وليست حاصلة ولابس ثوبي زور أي: ذي زور وهو الذي يزور على الناس بأن يتزي بزي أهل الزهد أو العلم أو الثروة ليغتر به الناس وليس هو بتلك الصفة

“al mutasyabbi’ adalah orang yang merasa kenyang padahal ia tidak kenyang. Maknanya dalam hadis ini adalah bahwa ia menampakkan telah mendapatkan suatu keutamaan, padahal sebenarnya itu tidak ia dapatkan. Dan maksud dari (memakai dua baju kedustaan) adalah ia memakai atribut kedustaan. Yaitu ia membohongi orang-orang dengan seolah-olah ia adalah orang yang ahli zuhud, ahli ilmu dan orang kaya. Agar orang-orang tertipu. Padahal sebenarnya tidak demikian” (Syarh Riyadh Ash-Shalihin, 6/185-186).

Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata,

من تزين للناس بشيء يعلم الله تعالى منه غير ذلك شانه الله

“Siapa yang berhias kepada manusia dengan sesuatu dan Allah mengetahui ia tidak demikian, maka Allah akan menjadikannya buruk..” (Tahdzib Hilyah 2/425)

Dengan adanya kemajuan teknologi di zaman ini perbuatan “al mutasyabi” ini mulai hadir dengan beranena ragam, semisal

  1. Membeli follower agar terlihat memiliki banyak pengikut.
  2. Branding diri di dunia maya, agar terkenal.
  3. Update status atau foto di suatu tempat padahal dia tidak sedang disitu.
  4. Pasang foto bersama dengan orang besar, seakan dia kenal baik dan akrab dengan orang-orang besar tersebut, padahal mungkin sebatas bertemu sekali saja.
  5. Update foto makanan enak, namun saat itu ia dalam kondisi tidak memakannya.

Dan masih banyak contoh lainnya yang mungkin ada di sekitar kita.

Sebagai seorang muslim hendaknya ia mengucapkan atau memberikan berita kepada orang lain dengan informasi yang valid, bukan malah memberikan informasi yang semu atau palsu, karena hal ini adalah ciri-ciri orang fasiq yang selalu dibutuhkan tabayyun informasi dari mereka. Allah Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. AL Hujurat: 6)

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam juga telah bersabda dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim).

Referensi:

Syarh Riyadh Ash Shalihin

Taqribul Hushul ala Lathaif Ushul min Ilmi Ushul

Leave a Reply