Benarkah Tidak Bercadar Berarti Tidak Salafi?

Ada sebagian akhwat yang berpandangan bahwasanya membuka cadar atau tidak bercadar itu akan berpengaruh terhadap manhaj salaf, atau kurang sempurna manhaj salafnya. Apakah ini benar ?

Pendapat diatas adalah pendapat yang tidak tepat, karena hal diatas berarti telah menjadikan perkara yang bukan manhajiyah sebagai perkara manhajiyah, sebagaimana yang telah disampaikan oleh syaikh Muhammad bin Shaleh al ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab Fatawa Arkan Al Islam beliau menerangkan bahwa perkara manhaj itu mencakup dua hal, yaitu:

1. Akidah
2. Ibadah Mahdhah

Dan mengenai manhaj yang meliputi perkara akidah dan ibadah ini sejatinya telah dijelaskan pula oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitabnya Al Aqidah Al Washithiyah.

Maka bila seseorang itu melakukan penyimpangan dalam masalah akidah atau banyak berbuat bid’ah dalam masalah ibadah maka inilah yang dapat mempengaruhi keadaan seseorang, apaka ia tetap ahlusunnah ataukah bukan ahlusunnah.

Dan diantara masalah yang tidak termasuk perkara manhajiyah adalalah masalah membuka cadar, bahkan menurut ulama yang mewajibkan cadar sekali pun mereka tidak menjadikan masalah cadar ini sebagai perkara manhajiyah.

Jadi, tidak benar bila ada orang yang beranggapan bahwa kalau tidak bercadar berarti kurang salafi atau bahkan tidak tergolong salafi, contoh lainnya adalah masalah isbal, dimana sebagian orang beranggapan bahwa ini adalah perkara manhajiyah padahal yang benar ini adalah perkara maksiat dan bukan termasuk masalah manhajiyah.

Bisa jdi ada ahlusunnah namun ia isbal, karena person ahlusunnah itu tidak disyaratkan harus ma’shum (bersih dan tidak memiliki dosa), maka seandainya ada seorang ahlusunnah yang berkeyakinan bahwa cadar itu wajib, namun ia membuka cadarnya maka ia telah bermaksiat, namun dirinya tidak kita katakan keluar dari ahlusunnah.

Bebas dari maksiat itu bukan syarat menjadi ahlusunnah. Maka mungkin saja ada ahlusunnah yang melakukan maksiat. Pun demikian bukanlah syarat menjadi orang bertaqwa itu harus bersih dari dosa, sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala sampaikan ketika mensifati orang-orang yang bertaqwa dalam firmannya,

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

“Dan orang-orang (bertaqwa) adalah yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 135)

Maka dari itu, satu hal yang perlu kita garis bahawi bersama adalah maksiat itu tidak mengelurakan seseoranng dari status ahlusunnah, namun maksiat itu mengeluarkan seseorang dari status muslim yang taat, dan bila seseorang bermaksiat kemudia ia segera bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat niscaya Allah akan mengampuni dosannya.

Sebagaimana para sahabat radhiyallahu anhum yang tidaklah kita ragukan bahwa mereka adalah ahlusunnah, sebagian mereka pun ada yang pernah bermaksiat seperti minum khamr dan berzina, namun hal tersebut tidaklah menjadikan mereka keluar dari ahlusunnah.

Karena lawan dari ahlusunnah adalah ahlu bid’ah, dan tidak ada seorang sahabat pun yang menjadi ahli bid’ah.

Kesimpulan:
1. Tidak memakai cadar atau membuka cadar tidak mengelurkan seseorang dari ahlusunnah.
2. Perkara manhaj itu meliputi 2 hal, yaitu akidah dan ibadah.
3. Maksiat tidak mengeluarkan seseorang dari predikat ahlusunnah namun maksiat itu menjadikan seseorang keluar dari status muslim yang taat.
3. Menjadi ahlusunnah itu tidak disyaratkan bersih dari dosa (ma’shum).
4. Orang yang bertaqwa itu bila ia berbuat dosa maka ia segera bertaubat dan memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Wallahu ta’ala a’lam

Referensi:
– Mp3 tanya-jawab bersama ust Aris Munandar hafidhahullah, link audio https://drive.google.com/file/d/18iJq_Y0SdN4FRD4wAxqZjqd5qsuHXceq/view?usp=drivesdk
– Fatawa Arkan Al Islam, Dar At Tsuroya

Leave a Reply