Keunikan Mushaf Pribadi Ibnul Jazari

Pada artikel sebelumnya, redaksi Qoryatuna telah membawakan seputar kronologi dibalik fakta ditemukannya Mushaf Ibnul Jazari rohimahulloh. Dalam artikel kali ini, insyaAllah kami akan menjelaskan dengan lebih detail ciri-ciri utama dari mushaf tersebut.

Baca juga: Kronologi Terungkapnya Misteri Mushaf Ibnul Jazari rohimahulloh

Meskipun mushaf tersebut masuk dalam kategori manuskrip yang hilang, akan tetapi deskripsinya dapat kita jumpai dalam kitab Natsru Al-Marjan.

Pertama: Penulisan Nama Surat dengan Warna yang Berbeda

Di awal setiap surat, Ibnul Jazari rohimahulloh menuliskan nama surat tersebut dengan warna yang berbeda. Hal ini dalam rangka membedakannya dengan tinta hitam yang beliau gunakan untuk menuliskan ayat-ayat Al-Quran.

Penggunaan warna yang berbeda juga terjadi pada penulisan jumlah ayat, ayat-ayat sajdah serta berbagai informasi tambahan yang terdapat dalam mushaf tersebut.

Kedua: Qiroat yang Digunakan

Sang Imam menuliskan mushafnya berdasarkan Qiroat yang masyhur pada zaman beliau, yaitu Qiroat Abu ‘Amr Al-Bashri. Qiroat ini tentunya memiliki banyak sekali perbedaan dengan Riwayat Hafsh yang biasa kita baca sehari-hari.

Ketiga: Menggunakan Beberapa Warna Tinta yang Berbeda

Penggunaan tinta berwarna dalam penulisan mushaf bukanlah hal yang baru. Para ulama terdahulu sudah biasa menggunakan tinta hitam untuk menuliskan ayat Al-Quran. Sedangkan tinta merah digunakan untuk menuliskan harokat dan tanda titik pada huruf-huruf hijaiyyah.

Namun Ibnul Jazari rohimahulloh memiliki cara berbeda dalam memanfaatkan tinta tersebut.

Tinta hitam: Untuk menuliskan ayat Al-Quran

Tinta Merah: Untuk menunjukkan berbagai huruf yang tidak tertuliskan dalam rosm Ustmani atau sebaliknya.

Sebagai contoh, beliau menggunakan tinta merah untuk menuliskan alif mulhaqoh atau alif kecil pada lafadz:

ٱلۡكِتَـٰبُ

Tinta kuning: Untuk menuliskan huruf yang terdapat perbedaan antara satu mushaf utsmani dengan yang lain. Sebagai contoh, beliau menuliskan huruf alif dengan tinta kuning pada lafadz

صِرَ ٰ⁠طَ

Tinta biru: Untuk menuliskan huruf atau kalimat yang terdapat perbedaan qiroat di dalamnya yang masih berhubungan erat dengan rosm. Misalnya saat menuliskan tanda hamzah diatas wawu ؤ pada lafadz:

یُؤۡمِنُونَ

Sebab dalam sebagian qiroat, lafadz diatas memang dibaca tanpa hamzah.

Keempat: Addul Ay

Addul Ayy sendiri berhubungan dengan peletakkan tanda pada akhir setiap ayat. Perlu diketahui, bahwa hal ini berbeda antara satu mushaf dengan yang lain, berdasarkan Qiroat yang menjadi acuan.

Ibnul Jazari rohimahulloh sendiri menerapkan Addu Al-Bashri dalam mushaf beliau, sebab beliau menuliskan mushaf tersebut berdasarkan qiroat Abu ‘Amr Al-Bashri.

Perhatikan salah satu contoh penerapan Addul Bashri pada surat Al-Fatihah ayat 6 dan 7 di bawah ini:

Mushaf Abu ‘Amr Ad-Duri

Kelima: Catatan Kaki

Dalam mushafnya, Ibnul Jazari rohimahulloh menyertakan banyak catatan kaki. Baik yang berhubungan dengan ilmu rosm, ilmu qiroat maupun waqof dan ibtida’.

Metode seperti ini nantinya banyak kita jumpai pada mushaf-mushaf yang ada saat ini.

Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa memudahkan langkah kita untuk menjadi penjaga kitab-Nya. Amiin.

Referensi:

Mushaf Ibnul Jazari, Doktor Sholah Sayir Farhan

Leave a Reply