Kiat Sukses Menuntut Ilmu Bag.5: Bijak dalam Memilih Metode Belajar

Setiap tujuan memiliki jalan yang akan menghantarkan kepada tujuan tersebut. Barang siapa yang menempuh jalan yang benar, maka dia akan sampai kepada tujuannya. Barang siapa  yang berpaling dari jalan tersebut, maka dia tidak akan mencapai tujuannya (gagal).

Dan sungguh ilmu pun ada jalannya tersendiri, siapa yang keliru, dia akan tersesat dan tidak mendapatkan yang dia maksudkan. Atau, bisa juga dia masih mendapatkan bagian yang  sedikit kendati usaha yang dikerahkan sudah banyak.

Muhammad Murtadha bin Muhammad Az Zabidy pengarang kitab “Taj al ‘Arus” telah menyebutkan jalan ilmu ini dalam sebuah ungkapan yang cukup ringkas namun padat dan lengkap, dalam syairnya yang bernama, “Alfiyyatu As Sanad”, ia berkata,

فما حوى الغاية في ألف سنه *  شحص فخذ من كل فن أحسنه
بحفظ متن جامع للراجح *  تأخذه على مفيد ناصح

“Tak ada yang dapat meraih seluruh tujuan sekali pun dalam seribu tahun, Maka ambillah yang terbaik dari setiap cabang ilmu itu.

Dengan menghafal sebuh matan (kitab ringkasan ilmu) yang memuat pendapat yang unggul, yang engkau pelajari dari seorang guru pemberi faidah dan nasehat.”

Jalan ilmu yang benar itu terbangun diatas dua pondasi, siapa saja yang mengambil keduanya berarti ia telah mengagungkan ilmu, karena ia mencarinya melalui jalan yang benar-benar akan mengantarkannya kepada ilmu tersebut.

Pondasi pertama: Menghafalkan matan yang memuat pendapat yang unggul. Harus menghafalnya, siapa pun yang menyangka bahwa ia bisa mendapatkan ilmu tanpa menghafal sungguh berarti ia sedang mencari kemustahilan. Dan yang dijadikan acuan dalam menghafal itu adalah kitab matan ringkas yang memuat pendapat yang unggul, maksudnya yang muktamad (dijadikan sandaran) di kalangan para pakar ilmu tersebut.

Pondasi kedua: Mempelajarinya dari seorang guru yang dapat memberi faidah dan nasihat, anda mendatanginya untuk memahami kitab tersebut darinya.

Dan guru ideal itu harus memiliki dua sifat,
Pertama: sifat Ifadah, maksudnya memiliki kapasitas dalam ilmu. Ia dikenal menuntut ilmu dan mentalaqqinya hingga ia memiliki kapasitas dalam ilmu tersebut. Dan dari rekam jejaknya dapat diketahui bahwa dia pernah belajar kepada guru/alim/ulama yang berilmu pula.

Dalil untuk poin ini adalah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dalam sunannya dengan sanad yang kuat, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تسمعون، و يسمع منكم، و يسمع منمن يسمع منكم

“Engkau mendengar (ilmu), lalu didengar ilmu itu darimu, lalu ia didengar lagi dari orang yang mendengarnnya darimu.” (HR. Abu Daud)

Objek yang diajak bicara dalam hadis ini umum, maka telah menjadi ciri khas bagi umat ini, bahwa ilmu diambil oleh orang belakangan dari orang yang terdahulu..

Kedua: sifat nasehat, dalam sifat ini harus terkumpul para diri seorang guru dua hal,

1. Guru dapat menjadi teladan dalam perilaku, akhlak serta budi pekertinya.

2. Sang guru mampu mengetahui bagaimana kemampuan murid yang akan dia ajar,  mengetahui metode atau kurikulum (kitab) apa yang cocok untuk  sang murid, serta mengetahui ilmu yang bermanfaat dan tidak manfaat untuk muridnya, sejalan dengan pendidikan ilmu yang dijelaskan oleh Imam Syathibi dalam kitabnya “al Muwafaqat”.

Sehingga dengan demikian murid belajar tidak hanya bermodalkan semangat belajar, namun juga mengetahui bagaimana belajar yang baik.

Seorang guru keliru bila ia megira bahwa hubungannya dengan murid hanyalah sebatas menyampaikan materi pelajaran saja, padahal sebenarnya ada perkara lain yang tidak kalah penting dari itu, yaitu memberikan nasehat kepada murid, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قلنا: لمن يا رسول الله؟ قال: لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم

“Agama adalah nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin serta kalangan umum mereka.” (HR. Muslim)

Maka dari itu sejatinya memberikan nasihat dalam pendidikan tidak kalah penting dari pelajaran itu sendiri, terlebih lagi nasehat sejatinya adalah tuntutan syar’i sebelum ia juga menjadi tuntutan pendidikan, karena memberikan nasehat kepada murid agar berjalan diatas jalan yang benar serta meluruskannya jika dia menyimpang dari jalan yang lurus, semua itu adalah tugas dan kewajiban seorang guru.

Faidah
1. Penuntut ilmu itu butuh hafalan terutama hafalan ayat-ayat Al Quran.
2. Tanpa metode yang benar dalam belajar, maka hasil yanng diraih tidak akan maksimal.
3. Penuntut ilmu butuh untuk menghafal matan-matan dalam berbagai cabang ilmu, seperti tauhid, haidts, fiqih dll.
4. Pilihlan matan ilmu yang ringkas terlebih dahulu sebelum mempelajari yang tebal-tebal.
5. Pilihlah guru yang mumpuni dari segi keilmuan, serta yang memiliki akhlak dan budi perkerti yang baik.
5. Guru yang baik mengarahkan murid kepada tahapan-tahapan belajar yanng cocok bagi sang murid tersebut.
6. Selain mengajarakan isi kitab, guru juga harus senantiasa memberi nasehat kepada muridnya, baik dalam bentuk motivasi atau solusi-solusi atas kendala yang sedang dihadapi dalam belajar.
7. Metode belajar yang baik itu harus ada keseimbangan dari dua sisi, sang murid dan guru.

Referensi:
Khulashah Ta’dzimul Ilmi
Qowaid wa Adab fi Thalabil Ilmi

Leave a Reply