Kisah Malam Pertama yang Tertunda

Malam pertama atau lailatu az zifaf merupakan saat yang ditunggu oleh sepasang pengantin. Sebuah momen istimewa dimana mereka menyelami lautan cinta hingga membuat dunia seakan hanya milik berdua, sedang yang lain hanya ikut numpang saja. Detik demi detik akan terasa amat lama saat menunggu malam tersebut tiba. Pernahkah terpikir bahwa ada seseorang yang rela untuk melewati atau menunda malam indah tersebut? Meski sulit untuk dipercaya, namu jawabannya : ada. Mari kita simak bersama kisah pengorbanan indah yang berasal dari Kota Naisabur.

Sebuah kisah nyata yang jauh lebih indah dari dongeng yang diceritakan oleh para pujangga. Dikisahkan bahwa seorang lelaki yang bernama Sulaiman An Naisaburi rohimahulloh baru saja melangsungkan pernikahan. Sebuah ikatan yang menyatukan dua insan dalam bahtera rumah tangga dibawah naungan ridho Robb alam semesta.

Sebagaimana wajarnya sepasang pengantin baru, setelah selesai melangsungkan akad nikah mereka akan melewati sebuah malam istimewa yang disebut malam pertama. Namun sebelum sempat melewati malam tersebut, datang sebuah kabar yang cukup mengejutkan. Salah seorang ulama hadits yang bernama Ibnul Mubarok rohimahulloh sedang berada di kota Marwu, sebuah daerah yang tak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Kabar tersebut tentu tak akan dilewatkan oleh penuntut ilmu manapun, tak terkecuali si pengantin baru ini.

Setelah menimbang-nimbang antara melewati malam pertama dengan sang istri tercinta ataukah bersama rombongan menuju Ibnul Mubarok, ia pun mengambil keputusan yang sulit untuk dipercaya. Keputusannya sudah bulat, ia akan ikut menemui sang ulama ahli hadits meskipun harus melewati malam yang dingin tanpa ditemani oleh sang kekasih hati.

Sungguh naas, saat sampai di kota tujuan ia justru hanya mendapatkan debu bercampur kesedihan. Ibnul Mubarok yang ingin ia jumpai sudah pergi meninggalkan tempat tersebut. Bagai jatuh tertimpa tangga, ia pun merasakan kesedihan yang amat mendalam. Malam pertama tak didapat sekaligus gagal bertemu sang ahli hadits. Nampaknya malam itu akan terasa lebih dingin dari sebelumnya, sebab ia akan tidur berselimutkan rasa kecewa. Ditengah kesedihan tersebut ia lantas mendendangkan bait-bait syair yang menggambarkan betapa menyedihkan keadaannya saat itu :

خلفتُ عرسي يوم السير باكية # يا ابن المبـارك تبكيني برناتِ 
خلفتها سحرًا في النوم لـم أرها # ففي فؤادي منها شبه كيـاتِ

Sungguh tak disangka, kisah lelaki ini sampai ditelinga Ibnul Mubarok, beliau bahkan rela kembali untuk menemui lelaki tersebut agar bisa mewujudkan impiannya untuk menyerap ilmu darinya. Sebuah hadiah pernikahan yang amat indah tentunya.

Faidah Dauroh Syaikh Jibrin rohimahulloh, Riyadh, 27 Desember 2018

Leave a Reply