Kode Etik Penghafal Al-Quran #3: Muara Akhir Sanad Al-Quran

Muqoddimah

Salah satu pembahasan yang cukup menarik dalam penulisan Ijazah sanad Al-Quran adalah seputar “Muara Akhir” dari sanad ini. Sebab terdapat 2 versi penulisan yang kerap kita dapati di penghujung sanad Al-Quran.

Versi Pertama:

عن النبي صلى الله عليه وسلم عن جبريل عليه السلام عن الله عز وجل

“Dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dari Malaikat Jibril ‘alaihissalam dari Allah Azza wajalla

Versi Kedua:

عن النبي صلى الله عليه وسلم عن جبريل عليه السلام عن اللوح المحفوظ عن الله عز وجل

“Dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dari Malaikat Jibril ‘alaihissalam dari Lauhul Mahfudz dari Allah ‘Azza wajalla

Dua versi penulisan ijazah sanad Al-Quran diatas memiliki perbedaan yang cukup jelas, yaitu: adanya penambahan lafadz Lauhul Mahfudz pada versi yang kedua. Lantas manakah yang lebih tepat? Mari kita telaah bersama.

Perbedaan dalam masalah ini sejatinya merujuk pada sebuah pembahasan penting dalam ilmu Akidah: Apakah Malaikat Jibril ‘alaihissalam mengambil Al-Quran langsung dari Allah subhanahu wata’ala?

Permasalahan ini nantinya lebih dikenal dengan sebutan Al-kalam; sebab pondasi utama yang melatarbelakangi munculnya permasalahan ini adalah sebuah keyakinan seputar sifat Allah ta’ala, yaitu Al-Kalam, atau dengan bahasa yang lebih sederhana: Apakah Allah subhanahu wata’ala berfirman dengan mengeluarkan suara dan huruf ataukah tidak?

Sebagian kalangan berusaha menjauhkan Allah subhanahu wata’ala dari menyerupai makhlukNya, akan tetapi mereka keliru dalam penerapannya. Dimana mereka akhirnya mengambil tindakan dengan meniadakan sifat Al-Kalam dari Allah ta’ala dengan dalih agar tidak menyerupakan Sang Rab semesta alam dengan makhlukNya.

Keyakinan diatas kemudian mereka terapkan dalam seluruh aspek kehidupan, salah satunya dalam penulisan ijazah sanad Al-Quran. Oleh sebab itu, mereka menambahkan kalimat Lauh Al-Mahfudz sebagai sebuah bentuk pengukuhan atas keyakinan mereka. Sebab dengan menambahkan lafadz tersebut maka secara tidak langsung mereka sedang mengatakan bahwa Malaikat Jibril tidak mengambil Al-Quran dari Allah ta’ala secara langsung, melainkan dari Lauhul Mahfudz, karena Allah berfirman tanpa suara dan huruf, itulah apa yang mereka yakini.

Penjelasan

Al-quran berada di Lauhul Mahfudz memang benar adanya, sebagaimana firman Allah ta’ala:

إِنَّهُۥ لَقُرۡءَانࣱ كَرِیمࣱ * فِی كِتَـٰبࣲ مَّكۡنُونࣲ * لَّا یَمَسُّهُۥۤ إِلَّا ٱلۡمُطَهَّرُونَ

Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.

(QS Al-Waqi’ah: 77-79)

Namun perlu dicatat bahwasanya Allah subhanahu wata’ala tiap kali menurunkan suatau ayat kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, maka sesungguhnya Dia mewahyukannya secara langsung kepada Malaikat Jibril dengan suara yang terdengar. Hal ini sebagaimana dikuatkan oleh dalil-dalil yang ada. Diantaranya adalah sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam:

إِذَا قَضَى اللَّهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتْ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ فَإِذَا { فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا } لِلَّذِي قَالَ { الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ } فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعِ وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضُهُ فَوْقَ بَعْضٍ

Apabila Allah menetapkan satu perkara di atas langit maka para malaikat mengepakkan sayap-sayap mereka karena tunduk kepada firman-Nya, seakan-akan (seperti suara gemerincing) rantai yang berada di atas batu besar. Apabila telah dihilangkan ketautan dari hati mereka, mereka berkata; ‘Apa yang difirmankan Rabb kalian? ‘ mereka menjawab; ‘Al Haq, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.’ Jin-jin pencuri berita mendengarkannya, (mereka bersusun-susun) sebagian di atas sebagian yang lainnya

(HR Bukhori)

Dalam riwayat lain disebutkan:

إِنَّ اللَّهَ إِذَا تَكَلَّمَ بِالْوَحْيِ سَمِعَ أَهْلُ السَّمَاءِ لِلسَّمَاءِ صَلْصَلَةً كَجَرِّ السِّلْسِلَةِ عَلَى الصَّفَا، فَيُصْعَقُونَ، فَلاَ يَزَالُونَ كَذَلِكَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ جِبْرِيلُ فَإِذَا جَاءَهُمْ فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ، فَيَقُولُونَ‏:‏ يَا جِبْرِيلُ مَاذَا قَالَ رَبُّكَ‏؟‏ فَيَقُولُ‏:‏ الْحَقَّ، فَيُنَادُونَ‏:‏ الْحَقَّ الْحَقَّ‏

Sesungguhnya apabila Allah berbicara dengan wahyu, maka penduduk langit akan mendengar suara gemerincing seperti rantai yang diseret di atas batu-batu yang licin. Mereka pun jatuh pingsan. Mereka terus dalam keadaan demikian sampai Jibril mendatangi mereka. Apabila Jibril telah mendatangi mereka, maka ketakutan dihilangkan dari hati mereka. Lalu mereka berkata, ‘Jibril, apa yang dikatakan oleh Tuhanmu?’ Jibril berkata, ‘Al-Haqq’ Mereka pun menyerukan: ‘Al-Haqq, Al-Haqq’.

(HR Ibnu Hibban)

Hadits diatas secara jelas menunjukkan bahwasanya malaikat Jibril mendengar dan menerima wahyu secara langsung dari Allah subhanahu wata’ala. Sehingga silsilah sanad yang tepat adalah: dari Malaikat Jibril ‘alaihissalam dan langsung dari Allah subhanahu wata’ala, bukan melalui lauhul mahfudz.

Penulisan sanad ini, sejak ratusan tahun yg lalu telah dicontohkan oleh para ulama, diantaranya adalah Imam Adz-Dzahabi rohimahulloh dalam kitab beliau yang berjudul Ma’rifat Al-Qurro. Saat memaparkan biografi Imam ‘Ashim rohimahulloh, pengarang menyertakan ijazah sanad Al-Qurannya untuk riwayat Hafs:

فإنني قرأت القرآن كله على أبي القاسم سحنون المالكي.عن أبي القاسم الصفراوي عن أبي القاسم بن عطية، عن ابن الفحام عن ابن نفيس، عن السامري عن الأشناني عن عبيد بن الصباح عن حفص عن عاصم عن أبي عبد الرحمن، عن علي وعن زر عن عبد الله عن النبي -صلى الله عليه وسلم، عن جبريل -عليه السلام- عن الله -عز وجل، فنسأل الله أن يجعله شاهدا لنا وشافعا

Sesungguhnya aku telah membaca seluruh Al-Quran kepada Abul Qosim Suhnun, dari Abul Qosim Ash-Shofrowi, dari Abul Qosim bin ‘Athiyyah, dari Ibnu Al-Fahham, dari Ibnu Nafis, dari As-Samiri, dari Al-Usynani, dari Ubaid bin Ash-Shobbah, dari Hafs, dari ‘Ashim, dari Abi Abdirrohman, dari Ali, dari Zirr, dari Abdulloh, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dari Jibril ‘alaihissalam dari Allah ‘azza wajalla.
Semoga Allah menjadikannya sebagai saksi sekaligus pemberi syafa’at bagi kami.

Cukup jelas tentunya bahwa Imam Adz-Dzahabi tidak menambahkan lafadz lauhul mahfudz pada tulisan beliau.

Hal ini juga senada dengan perkataan Ibnul Jazari rohimahulloh dalam matan Al-Jazariyah saat tengah menjelaskan tentang wajibnya menerapkan ilmu tajwid dalam membaca Al-Quran:

لأنه به الإله أنزلا
وهكذا منه إلينا وصلا

Sebab (Al-Quran) diturunkan oleh Allah ta’ala
Dan seperti inilah (dengan tajwid) Al-Quran tersebut sampai kepada kita dariNya

Kesimpulan

Terdapat beberapa kesimpulan dalam pembahasan ini, diantaranya ialah:

Pertama: Malaikat Jibril ‘alaihissalam menerima dan mendengar langsung firman Allah ta’ala, bukan mengambilnya dari lauhul mahfudz.

Kedua: Versi penulisan sanad Al-Quran yang tepat adalah versi pertama, yaitu tanpa menyertakan kalimat “lauhul mahfudz”.

Ketiga: Ahlussunnah sepakat dalam menetapkan sifat Al-Kalam bagi Allah subhanahu wata’ala, tanpa mempertanyakan bagaimana hakikatnya. Hal ini sebagaimana pernah diajarkan oleh Imam Malik rohimahulloh tatkala ada yang bertanya tentang hakikat dari sifat Al-Istiwa’. Beliau menjawab:

الاستواء معلوم، والكيف مجهول، والسؤال عنه بدعة

Al-Istiwa (bersemayam) merupakan suatu hal yang jelas, dan hakekat tata caranya tidak diketahui, dan bertanya tentangnya merupakan sebuah kebid’ahan.

Semoga Allah ta’ala memudahkan kita untuk menjadi ahli Al-Quran, Amiin.

Referensi:
Mairfat Al-Qurro, Adz-Dzahabi
Sunan Al-Qurro, Abdul Aziz Al-Qori

Leave a Reply