Kode Etik Penghafal Al-Quran #4: Jauhi Kebiasaan Buruk sebagian Penghafal Al-Quran

Sesungguhnya diantara Manhaj Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dalam mengajarkan Al-Quran adalah dengan mengajarkannya secara bertahap, dimana tiap sesinya hanya berkisar antara 5 hingga 10 ayat. Namun para sahabat kala itu tak hanya sekedar menghafal susunan huruf Al-Quran, akan tetapi mereka menyerap dengan baik tata cara Nabi melantunkannya, memahami serta mengamalkan isi kandungannya. Hal ini sebagaimana digambarkan oleh Abu Abdirrohman As-Sulami rohimahulloh:

إِنَّا أَخَذْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَنْ قَوْمٍ أَخْبَرُونَا أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا تَعَلَّمُوا عَشْرَ آيَاتٍ لَمْ يُجَاوِزُوهُنَّ إِلَى الْعَشْرِ الأُخَرِ حَتَّى يَعْلَمُوا مَا فِيهِنَّ. فَكُنَّا نَتَعَلَّمُ الْقُرْآنَ وَالْعَمَلَ بِهِ.

“Sesungguhnya kami mempelajari Al-Quran ini dari sekelompok orang (baca: para sahabat) yang mengabarkan kepada kami bahwasanya mereka dahulu tidak melewati 10 ayat yang telah dipelajari kecuali setellah memahami maknanya. Maka kami mempelajari Al-Quran sekaligus mengamalkannya”

Maka inilah sejatinya manhaj terbaik dalam mempelajari Al-Quran, yaitu sedikit demi sedikit dengan penuh kesabaran sehingga terkumpul dalam satu waktu antara hafalan, pemahaman dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini juga merupakan rahasia mengapa para sahabat tidak terburu-buru menyelesaikan hafalan mereka tanpa memahami dan mengamalkan apa yang dibaca. Bahkan Imam Malik rohimahulloh pernah membawakan sebuah riwayat yang menceritakan bahwasanya sahabat Ibnu ‘Umar rhodiyallohu ‘anhuma mempelajari surat Al-Baqoroh selama 8 tahun.

Bukan berarti beliau tak mampu menghafalkannya dalam waktu satu minggu atau mungkin lebih singkat, akan tetapi metode para sahabat terdahulu adalah menyelaraskan antara ilmu dan amal. Sebab sosok penghafal Al-Quran yang terburuk adalah mereka yang tak bisa membuahkan amalan dari hafalan yang dimiliki.

Makki bin Abi Tholib rohimahulloh pernah menuuturkan dalam salah satu kitabnya:

فما أقبح حامل القرآن أن يتلو فرائضه وأحكامه عن ظهر قلب وهو لا يعلم ما يتلو، فكيف يعمل بما لا يفهم معناه، وما أقبح به أن يُسأل عن فقه ما يتلو فلا يدريه، فما مَن هذه حالته إلا كمثل الحمار يحمل أسفارا

“Sungguh amat buruk seorang penghafal Al-Quran yang membaca ayat yang mengandung berbagaii kewajiban serta hukum dengan hafalannya, akan tetapi ia tak memahami apa yang ia lantunkan. Bagaimana mungkin ia akan bisa mmengamalkkan isi kandungannya jika tak sanggup mmemahaminya?. Sungguh betapa burukk tatkala ia ditanya tentang makna ayat yang dibaca namun ia tak memahaminya. Sungguh keadaannya bagaikan seekor keledai yang memikul lembaran-lembaran”

Fakta diatas sekaligus menjawab pertanyaan mengapa di awal islam hanya terdapat segelintir sahabat yang dikenal sebagai para penghafal Al-Quran, baik dengan satu bacaan atau dengan berbagai qiroat yang pernah Nabi ajarkan.

Kesimpulan

Pertama: Metode terbaik dalam mempelajari Al-Quran adalah sedikit demi sedikit dengan menggabungkan antara hafalan, pemahaman serta upaya untuk mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya. Oleh karenanya kami sangat menyarankan agar lembaga tahfidz Al-Quran menyertakan tafsir singkat dalam kurikulum mereka sesuai dengan tingkat kemampuan para siswa. Hal ini dalam rangka meneladani metode Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dalam mengajarkan Al–Qran.

Kedua: Seorang pengajar Al-Quran sejatinya tidak dilarang untuk mengajarkan lebih dari 10 ayat kepada muridnya dalam satu sesi. Tentunya hal tersebut juga melihat kapasitas dan kemampuan dari murid yang ia ajar. Hal ini juga bisa disimpulkan dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori rohimahulloh, bahwasanya sahabat Ibnu Mas’ud rhodiyallohu ‘anhu pernah membacakan Al-Quran dihadapan Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam dari awal surat An-Nisa hingga ayat ke 41 (فَكَیۡفَ إِذَا جِئۡنَا مِن كُلِّ أُمَّةِۭ بِشَهِیدࣲ وَجِئۡنَا بِكَ عَلَىٰ هَـٰۤؤُلَاۤءِ شَهِیدࣰا).

Ketiga: Kulaitas hafalan serta pemahaman hendaknya selalu menjadi prioritas para pengajar Al-Quran, sebab dengan hal tersebut insyaAllah akan

lahir generasi para penghafal Al-Quran yang kokoh dan mumpuni dalam bidangnya, bukan sekedar penghafal Al-Quran yang “karbitan”, alias selesai dalam waktu singkat namun pada saat yang bersamaan hampir tak ada hafalan yang tersisa.

Wallahu a’lam.

Referensi:

Sunan Al-Qurro, Abdul Aziz Al-Qori
Ar-Ri’ayah, Makki bin Abi Tholib

Leave a Reply