Kode Etik Penghafal Quran #8: Sholat Seseorang yang Salah (Lahn) dalam Membaca Al-Quran

Alhamdulillahi wahdah, washolatu wassalamu ‘ala man la nabiyya ba’dah, Amma Ba’du.

Pada 2 tulisan sebelumnya kita telah membahas seputar lahn dengan berbagai bentuknya. Pembahasan dalam artikel kali ini akan berfokus pada hukum sholat seseorang yang salah dalam membaca Al-Quran.

Baca juga: Kode Etik Penghafal Quran #7: 2 Macam Lahn (Kesalahan) Beserta Hukumnya

Sholat merupakan sebuah ibadah yang memiliki kedudukan penting dalam islam. Ia merupakan amalan yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat serta barometer untuk amalan-amalan yang tersisa. Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan dalam sabdanya:

أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة الصلاة ، فإن صلحت صلح له سائر عمله و إن فسدت فسد سائر عمله

“Amalan yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah sholat, jika sholatnya baik, maka seluruh amalannya dianggap baik. Namun jika buruk, maka seluruh amalannya diangga buruk”

(HR Ath-Thabroni dan dishahihkan oleh Al-Bani)

Sebagaimana layaknya sebuah ibadah, sholat memiliki rukun yang harus dipenuhi, jika tidak, maka sholat seorang hamba tidak akan sah. Diantara rukun penting dalam sholat adalah membaca surat Al-Fatihah, sebagaimana sabda Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam:

لا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Tidak sah sholat seseorang yang tidak membaca Al-fatihah

(HR Muslim)

Hadits diatas menunjukkan bahwa membaca surat Al-Fatihah dengan baik dan benar sesuai hukum tajwid merupakan sebuah kewajiban. Sebab sholat seseorang amat bergantung padanya.

Namun sayangnya, hal ini masih kurang disadari oleh sebagian kaum muslimin. Terlihat dari fakta bahwa masih cukup banyak saudara kita yang salah dalam membaca surat Al-fatihah.

Untuk memahami lebih jelas permasalahan ini, kita perlu memperhatikan beberapa poin penting:

Pertama: Seseorang yang terjatuh pada lahn jaly saat membaca Al-Fatihah hingga merubah makna yang terkandung, maka sholatnya tidak sah. Bahkan sebagian ulama beranggapan bahwa meskipun lahn jaly yang terjadi tak sampai merubah makna, namun mengacaukan susunan kata, maka sholatnya batal. Seperti jika ia membaca lafadz حَمَّالَةَ الْحَطَب menjadi هَمَّالَةَ الْحَتَب.

Imam Nawawi rohimahulloh mengungkapkan dalam kitab Syarh Al-Muhadzab:

تجب قراءة الفاتحة في الصلاة بجميع حروفها وتشديداتها، وهن أربع عشرة تشديدة في البسملة منهن ثلاث فلو أسقط حرفاً منها أو خفف مشدداً أو أبدل حرفاً بحرف مع صحة لسانه لم تصح قراءته

Wajib membaca Al-Fatihah di dalam sholat beserta seluruh huruf dan tasydidnya. Terdapat 14 tasydid dalam surat Al-Fatihah, 3 diantaranya terletak pada basmalah. Jika seseorang menghilangkan satu huruf atau meninggalkan tasydid atau mengganti satu huruf dengan yang lain padahal ia sanggup mengucapkannya, maka bacaan Al-Fatihah nya tidaklah sah”

Kedua: Perlu kita bedakan antara orang yang berusaha belajar dengan orang yang enggan untuk memperbaiki bacaannya. Sebab orang yang sudah mengerahkan upaya dalam memmperbaiki bacaan akan tetapi tetap terjatuh pada lahn jaly, maka ia masuk dalam firman Allah ta’ala:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya

(Al-baqoroh: 286)

Ketiga: Jika kesalahan (lahn) yang terjadi ternyata sesuai dengan salah satu bacaan dalam qiroah ‘asyroh, maka hal tersebut tidak membatalkan sholat, meskipun ia tidak mengetahui qiroat tersebut. Seperti membaca lafadz الصراط dengan huruf sin sehingga menjadi السراط yang merupakan qiroat Ibnu Katsir dan sebagainya. Ini merupakan salah satu hikmah diturunkannya Al-Quran dengan 7 huruf (Ahruf As-Sab’ah), sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

فَأَيُّمَا حَرْفٍ قَرَءُوا عَلَيْهِ فَقَدْ أَصَابُوا

Dengan huruf manapun mereka gunakan untuk membaca, maka bacaan mereka benar”

(HR Muslim)

Keempat: Sebagian ulama berpendapat bahwa jika merubah satu huruf ke huruf lain yang cukup dekat makhroj dan sifatnya, maka hal tersebut masih dimaafkan. Sebab huruf-huruf yang memiliki kemiripan memang cukup sulit untuk dibedakan oleh orang awam.

Imam Nawawi rohimahulloh menyatakan bahwa jika seseorang merubah huruf ض menjadi huruf ظ, maka terdapat 2 pendapat seputar sah atau tidak sholatnya:

Pendapat pertama: Sholatnya tidak sah, ini adalah pendapat Imam Al-Juwaiini, Imam Ghozali dan Imam Ar-Rofi’i rohimahumulloh dan masih banyak lagi.
Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa sholatnya tetap sah. Alasannya ialah sulitnya orang awam membedakan makhroj keduanya.

Ibnu Katsir rohimahulloh dalam tafsirnya juga menguatkan pendapat kedua, yaitu sahnya sholat orang tersebut. Beliau berkata:

وَالصَّحِيحُ مِنْ مَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ أَنَّهُ يُغْتَفَرُ الْإِخْلَالُ بِتَحْرِيرِ مَا بَيْنَ الضَّادِ وَالظَّاءِ لِقُرْبِ مَخْرَجَيْهِمَا

“Dan yang lebih tepat dalam masalah ini dari berbagai pendapat ulama adalah: Tidak membedakan pengucapan antara huruf ض dan huruf ظ adalah kesalahan yang termaafkan karena dekatnya makhroj kedua huruf tersebut.

(Tafsir Ibnu Katsir surat Al-fatihah)

Penutup

Seorang muslim hendaknya berusaha dengan semaksimal mungkin untuk bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar, terutama untuk surat Al-fatihah. Jika sudah menguasainya, maka seyogyanya ia mengajarkannya kepada orang lain agar mereka terbebas dari berbbagai kesalahan yang kerap terjadi.

Semoga Allah subhanahu wata’ala memudahkan langkah kita dalam menuntut ilmu. Amiin.


Referensi:
Tafsir Ibnu Katsir
Sunan Al-Qurro, Abdul Aziz Al-Qori

Leave a Reply