Kode Etik Penghafal Quran #9: Hukum Sholat di belakang Imam yang Salah dalam Membaca Al-Fatihah

Alhamdulillah washolatu wassalam ‘ala rosulillah. Amma Ba’du.

Sholat berjamaah merupakan sebuah kewajiban bagi tiap lelaki muslim. Cukup banyak dalil yang menguatkan hal ini sebagaimana dijelaskan oleh para ulama fiqh. Diantaranya ialah sabda Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِينًا أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لَشَهِدَ الْعِشَاءَ

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku ingin memerintahkan seseorang mengumpulkan kayu bakar kemudian aku perintahkan seseorang untuk adzan dan aku perintahkan seseorang untuk memimpin orang-orang shalat. Sedangkan aku akan mendatangi orang-orang (yang tidak ikut shalat berjama’ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang di antara kalian mengetahui bahwa ia akan memperaleh daging yang gemuk, atau dua potongan daging yang bagus, pasti mereka akan mengikuti shalat ‘Isya berjama’ah.” (HR Bukhori Muslim)

Disamping itu, sholat berjamaah memiliki keutamaan yang besar jika dibandingkan dengan sholat sendirian. Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ أَحَدِكُمْ وَحْدَهُ بِخَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا

“Shalat jama’ah lebih utama dua puluh lima derajat daripada shalat salah seorang diantara kalian dengan sendiri.” (HR Muslim)

Namun terdapat sebuah permasalahan yang terkadang masih membuat bimbang sebagian orang, yaitu “Apakah sah sholat seseorang yang bermakmum kepada imam yang masih kacau bacaan Al-Fatihahnya?”. Sebab di negri kita, terkadang masih dijumpai sebagian imam baik di masjid ataupun musholla yang memiliki banyak kesalahan dalam membaca Al-Quran.

Para ulama sepakat bahwa orang yang masih jatuh dalam kesalahan saat membaca Al-Quran tidak direkomendasikan untuk menjadi imam sholat. Sebab Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam memberikan petunjuk bahwa orang yang paling berhak untuk mengimami sholat adalah orang yang paling pandai dalam membaca Al-Quran.

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ

“Yang berhak menjadi imam atas suatu kaum adalah yang paling menguasai bacaan kitabullah (Alquran) (HR Muslim)

Para ulama berbeda pendapat seputar sah atau tidaknya seseorang yangg bermakmum dibelakang imam yang masih salah dalam membaca Al-Fatihah, dimana kesalahan yang dimaksud masuk kategori Lahn Jally yang merusak makna.

Sebagian ulama mengatakan bahwa sholatnya dinilai tetap sah dan perbuatannya masuk kategori makruh. Namun banyak ulama yang berpendapat bahwa sholatnya tidak sah. Ini merupakan madzhab Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, Abu Tsaur, Ibnu Mundzir, Qotadah, Al-Muzanni serta pendapat yang lebih kuat dalam madzhab Syafi’i. Merka menuturkan:

تفسد صلاة القارئ خلف الأمي، وتصح صلاة من كان مثله

“Tidak sah sholat seseorang yang bisa membaca Al-fatihah dengan benar jika ia bermakmum dibelakang Ummi, adapun jika yang bermakmum adalah orang yang Ummi juga maka sholatnya sah”

Maksud dari istilah “Ummi” disini adalah orang yang belum bisa membaca Al-Fatihah dengan benar.

Kesimpulan

Terdapat beberapa poin penting yang perlu kita perhatikan dalam pembahasan ini:

Satu: Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa tidak sah sholat seseorang yang telah menguasai Al-fatihah dengan baik jika ia bermakmum dibelakang imam yang masih Ummi.

Dua: Orang yang Ummi bisa sah menjadi imam sholat jika makmumnya adalah orang yang sama dengannya alias Ummi juga. Namun perlu kita garis bawahi bahwa orang tersebut sudah berusaha untuk membenarkan bacaannya. Untuk lebih jelasnya bisa baca artikel sebelumnya pada poin yang kedua: Kode Etik Penghafal Quran #8: Sholat Seseorang yang Salah (Lahn) dalam Membaca Al-Quran

Tiga: Hendaknya para jamaah berusaha menasehati sang imam untuk memperbaiki bacaannya. Tentunya dengan adab dan bahasa yang baik agar ia tidak tersinggung.

Empat: Jika kesalahan yang dilakukan oleh imam dalam membaca surat Al-fatihah tidak sampai merubah makna, maka menjadi makmum dibelakangnya tetap sah.

Semoga Allah subhanahu wata’ala memudahkan kita untuk bisa membaca Al-Quran dengan baik dann benar.

Wallahu a’lam.

Referensi:
Sunan Al-Qurro, Abdul Aziz Al-Qori

Leave a Reply