Menyikapi Perbedaan Bacaan antar Qori’ dari Perspektif Tajwid

“Tapi saya perhatikan Syaikh Fulan membacanya demikian ustadz”

Bagi anda yang mengajar Al-Quran, mungkin pernah mendengar ungkapan diatas meluncur dari mulut murid tercinta saat mengajarkan beberapa hukum tajwid.

Ya, permasalahan seperti ini memang sudah sangat wajar muncul di tengah proses talaqqi. Sebab dengan kecanggihan teknologi yang ada, setiap orang mampu menyimak bacaan para Imam dan Qori dari berbagai belahan dunia.

Namun sayangnya, permasalahan ini seringkali memunculkan polemik diantara para murid. Dimana tiap murid mengunggulkan bacaan gurunya bahkan sampai-sampai pada tingkatan menganggap salah bacaan Imam atau Qori lain yang berbeda dengan sang guru.

Keadaan serupa pernah terjadi ratusan tahun yang lalu, sebagaimana dinukilkan oleh Imam Al-Andaroni rohimahulloh (wafat 470 H) dalam kitab beliau Al-Idhoh, dimana terdapat sekelompok orang yang membuat istilah Qiroatu Al-Wazni.

Maksud dari Qiroatu Al-Wazni sendiri ialah merupakan sebuah standar membaca Al-Quran yang tidak boleh ada sedikitpun perbedaan dalam cara membacanya. Mereka beranggapan jika ada sedikit saja perbedaan dari bacaan yang telah mereka patenkan, maka itu merupakan kesalahan.

Hal ini cukup menimbulkan keresahan diantara para penuntut ilmu. Bagaimana tidak, sebab dengan pemahaman seperti ini, ratusan pengajar dan penuntut ilmu akan dianggap salah dalam membaca Al-Quran. Padahal perbedaan yang terjadi masih masuk dalam lingkup wajar.

Lantas bagaimana kita menyikapi hal tersebut? Sebab memang fakta dilapangan tidak bisa kita pungkiri, dimana antara satu Qori dengan yang lain seringkali kita dapati perbedaan dalam menerapkan kaidah ilmu tajwid.

Mari kita renungi bersama.

Pembahasan

Peru diketahui, sebagian orang menganggap bahwa tata cara membaca Al-Quran merupakan hal yang saklek alias tidak ada celah sedikitpun untuk perbedaan. Padahal jika menyelami lebih dalam, akan kita sadari bahwa perbedaan yang simpel tidaklah mengurangi nilai dari tajwid itu sendiri.

Sudah menjadi hal yang ma’ruf bahwa Allah subhanahu wata’ala menurunkan Al-Quran dengan bahasa arab. Dan fakta yang tidak bisa kita pungkiri adalah bahwa antara satu orang arab dengan yang lain pastinya memiliki sedikit perbedaan dalam pengucapannya. Hal yang sama sejatinya terjadi dalam bahasa apapun, termasuk Bahasa Indonesia.

Dimana jika kita minta dua orang pribumi untuk membaca teks berbahasa Indonesia, tentu akan kita dapati sedikit perbedaan dalam kefashihannya. Entah dari segi pengucapan hurufnya atau dari penekanan beberapa huruf hingga ritme dalam membacanya.

Sehingga tidak bisa kita katakan bahwa seluruh orang arab tidak memiliki perbedaan secuil pun dalam pengucapan huruf hijaiyyah, baik dari segi tafkhimnya, imalah, ghunnah, panjang pendek huruf dan hal-hal yang semisalnya.

Justru seandainya seluruh bangsa arab diharuskan mengucapkan huruf hijaiyyah dengan cara yang sama dari segi ghunnah, mad dan sebagainya tanpa sedikitpun perbedaan, tentu hal ini merupakan perkara yang amat sulit.

Perhatikan 2 hadits berikut ini:

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rohimahulloh, Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْهُ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ

“Barangsiapa yang suka membaca Al Qur`an dengan tunduk sebagaimana ia diturunkan, hendaklah membaca seperti bacaan Ibnu Ummu ‘Abd (Ibnu Mas’ud)”. (HR Ahmad)

Dalam hadits lain beliau shollallohu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَسَالِمٍ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ

“Pelajarilah Al Qur`an itu dari empat orang. Yaitu dari, Abdullah bin Mas’ud, Salim, Mu’adz bin Jabal dan Ubay bin Ka’ab.” (HR Bukhori).

Kedua hadits diatas dengan jelas menyatakan bahwa Ibnu Mas’ud rhodiyallohu ‘anhu adalah sahabat yang paling piawai dalam membaca Al-Quran. Bahkan pada hadits yang pertama Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menggambarkan bahwa bacaan sahabat tersebut sangat mirip seperti saat Al-Quran diturunkan kepada beliau.

Disamping itu, kedua hadits diatas juga menunjukkan bahwa antara satu sahabat dengan yang lain memiliki tingkatan yang berbeda-beda dalam membaca Al-Quran. Dan pujian Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam Ibnu Mas’ud rhodiyallohu ‘anhu tidak serta merta membawa arti bahwa bacaan sahabat lain yang tidak sepiawai beliau merupakan bacaan yang salah.

Jika perbedaan tingkatan dalam membaca Al-Quran terjadi diantara sahabat yang merupakan generasi terbaik, tentunya sudah menjadi hal yang sangat wajar jika hal tersebut terjadi pada generasi setelah mereka.

Diantara bentuknya adalah apa yang pernah diutarakan banyak ahli tajwid seperti Makki bin Abi Tholib (wafat 437 H), Ad-Dani (wafat 444 H) hingga Ibnul Jazari (wafat 833 H) rohimahumulloh bahwa perbedaan tingkatan hukum mad didasarkan pada At-Taqrib atau “perkiraan” .

Begitu juga apa yang disampaikan oleh Al-Fasi rohimahulloh dalam syarahnya untuk Syatibiyah bahwa sebagian guru beliau memanjangkan ghunnah al-kamilah dengan benar-benar panjang, sedangkan sebagian yang lain hanya membaca ghunnah dengan secukupnya saja.

Hal inilah sejatinya yang kita saksikan saat ini terjadi antara para Qurro. Dimana antara satu dengan yang lain memiliki sedikit perbedaan yang masih masuk kategori “wajar“. Tentu hal tersebut tidak bisa kita samakan dengan kesalahan-kesalahan yang jelas-jelas menyelisihi kaidah dan hukum tajwid.

Kesimpulan

Seorang penuntut ilmu hendaknya memilah antara perbedaan yang masih masuk dalam kategori wajar dengan yang tidak. Sehingga ia bisa memberikan sikap yang tepat serta tidak terburu-buru dalam menyalahkan bacaan orang lain. Terlebih jika perbedaan tersebut sudah pernah dinukilkan sebagai pendapat beberapa ulama tajwid terdahulu, seperti perbedaan dalam ritme ghunnah, Marotib At-tafkhim, dan semisalnya.

Disamping itu, seorang penuntut ilmu juga sangat disarankan untuk tidak menyelisihi bacaan gurunya saat talaqqi, meskipun bisa jadi ia memiliki sedikit perbedaan pendapat dalam beberapa hal yang berkaitan dengan hukum tajwid.

Adapun untuk para pengajar Al-Quran, janganlah membuat para murid menjadi anti terhadap bacaan pengajar yang lain selama perbedaan yang ada masih bersifat wajar. Sebab kita tidak bisa memastikan bahwa bacaan kita sudah 100 persen sama dengan bacaan Ibnu Mas’ud rhodiyallohu ‘anhu yang sudah mendapatkan pengakuan langsung dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Dan bisa jadi bacaan orang lain justru lebih baik dari bacaan kita.

Oleh karenanya, nasihatkanlah kepada para muridmu untuk talaqqi kepada banyak guru, bukan hanya kepada kita saja. Sebagaimana Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menganjurkan kepada para sahabat untuk mempelajari Al-Quran kepada 3 sahabat lain, padahal beliau sendiri menjelaskan bahwa bacaan Ibnu Mas’ud rhodiyallohu ‘anhu meupakan bacaan yang sangat mirip dengan saat Al-Quran diturunkan.

Semoga Allah subhanahu wata’ala memudahkan langkah kita dalam menuntut ilmu. Amiin.

Wallahu a’lam.

Referensi:
At-Tafawut Al-Maqbul, Syaikh ‘Ali Al-Ghomidi

Leave a Reply