Mimpi dalam Pandangan Syariat

Islam adalah agama yang sempurna, oleh karena itu berbagai hal terkait kehidupan kita telah ada tuntunamnya dalam syariat Islam.

Islam memberikan petunjuk-petunjuk dan pedoman, yang jika petunjuk tersebut kita lalsanakan maka yang pertama kali mendapatkan manfaat dan mashlahat adalah diri kita sendiri. Allah ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al Maidah : 3)

Dan diantara hal yang dekat dengan kehidupan kita dan di sana ada aturan islam tentangnya adalah apa yang kita alami ketika tidur, yaitu mimpi. Maka islam telah memberikan anjuran dan pedoman bagi siapa saja yang bermimpi.

Sebelum kita bahas lebih lanjut terkait tuntunan syariat terkait mimpi, maka setidaknya kita harus tahu terlebih dahulu bahwa mimpi itu terbagi menjadi 3 jenis:

1. Mimpi dari Allah.

2. Mimpi dari Setan.

3. Mimpi dari Diri Sendiri.

Mimpi baik itu datangnya dari Allah ta’ala, sedangkan mimpi buruk datangnya dari setan, adapun yang dimaksud dengan mimpi dari diri sendiri adalah mimpi yang disebabkan oleh apa-apa yang kita pikirkan sebelum tidur, contohnya adalah bila kita kehilangan suatu barang atau uang kemudian kita memikirkan hal tersebut seharian sampai menjelang tidur, sehingga pikiran tersebut terbawa ke dalam mimpi.

Dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radiyallahu’anhu bahwasannya ia pernah mendengar Nabi shalallahu’alaihi wasallam bersabda,

إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ رُؤْيَا يُحِبُّهَا فَإِنَّمَا هِيَ مِنْ اللَّهِ فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ عَلَيْهَا وَلْيُحَدِّثْ بِهَا وَإِذَا رَأَى غَيْرَ ذَلِكَ مِمَّا يَكْرَهُ فَإِنَّمَا هِيَ مِنْ الشَّيْطَانِ فَلْيَسْتَعِذْ مِنْ شَرِّهَا وَلَا يَذْكُرْهَا لِأَحَدٍ فَإِنَّهَا لَا تَضُرُّهُ (رواه البخاري) وَ فِيْ رِوَايَة : فَلْيَنْفُث عَنْ شِمَالِهِ ثَلَاثًا

“Jika salah satu dari kalian bermimpi hal yang disukai, maka sungguh hal itu adalah dari Allah, maka hendaklah ia memuji kepada Allah atas mimpi itu, dan hendaklah ia menceritakannya. Dan jika (salah satu dari kalian) bermimpi selain itu, yakni hal yang ia tidak sukai, maka sungguh hal itu adalah dari setan, maka hendaklah ia meminta perlindungan dari kejelekan mimpi itu, dan tidak menceritakannya kepada seorang pun, (dengan cara tersebut) mimpi tidak akan membahayakannya.” (HR. Bukhari) dalam sebuah riwayat: “meludah kearah kiri 3 kali.”

Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitab Fathul Baari memberikan komentar terhadap hadits diatas bahwa ketika seorang muslim bermimpi baik maka ada 3 hal yang hendaknya ia lakkukan:

1. Memuji Allah ta’ala.

2. Bergembira atas Mimpi Tersebut.

3. Bila Hendak Bercerita, maka ceritakanlah kepada seseorang yang disangka kuat bahwa ia adalah orang yang mencintai anda dan bukan membenci anda.

Sedangkan ketika seorang muslim bermimpi buruk maka ada 4 hal yang hendaknya ia lakukan,

Pertama, Ta’awudz (meminta perlindungan) kepada Allah ta’ala dari keburukan mimpi tersebut.

Kedua, Meminta perlindungan kepada Allah ta’ala dari setan, karena pada hakekatnya setanlah yang membuat seseorang bermimpi buruk.

Ketiga, Meludah ke sebelah kiri sebanyak 3 kali.

Keempat, Tidak menceritakn mimpi buruk tersebut kepada siapapun.

Dan di akhir hadits tersebut Nabi shalallahu’alaihi wasallam berkata فإنها لا تضره yang maksdunya adalah ketika seseorang bermimpi buruk kemudian dia melakukan hal-hal yang dituntunkan di atas niscaya mimpi buruk tersebut tidak akan pernah mencelakainya dengan izin Allah ta’ala. Oleh karena itu ketika bermimpi buruk janganlah semerta-merta cerita kesana dan kemari, apalagi sampai di unggah di berbagai media sosial yang dimiliki.

Wallahu ta’ala a’lam

Referensi:
Fathul Baari Syarh Shahih Al Bukhari, karya Ibnu Hajar Al ‘Asqolani rahimahullah

Leave a Reply