Pengantar Ilmu Fiqih (Bag.2)

Definisi Fiqih

Dalam pembahasan ini setidaknya ada 3 poin penting,

  1. Pengertian fiqih secara bahasa (Ta’rif Al Lughawi)
  2. Pengertian fiqih secara syariat (Ta’rif Asy Syar’i)
  3. Pengertian fiqih secara istilah (Ta’rif Ishthilahi)

Ta’rif Al Lughawi
Fiqih secara bahasa artinya adalah mengetahui dan memahami, pemahaman disini bersifat umum yaitu baik pemahaman terhadap masalah-masalah syariat atau pemahaman terhadap masalah-masalah kimia, matematika, biologi dll. Maka makna fiqih secara bahasa ini mencakup pemahaman-pemahaman syariat dan non syariat seperti pemahaman tentang ilmu umum.

Dalam Al Quran Allah Ta’ala telah menggunakan lafadz fiqih ini dengan makna pemahaman. Allah berfirman,

قَالُواْ يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَقُولُ

“Kaum Madyan mengatakan: Wahai Syuaib! Kami tidak memahami kebanyakan tentang apa yang engkau katakan.” (QS. Hud: 91)

Ta’rif Asy Syar’i
Fiqih secara syariat adalah suatu ilmu terkait masalah-masalah agama secara global, baik itu masalah terkait perbuatan mukallaf seperti rukun shalat, syarat shalat, pengetahuan masalah sifat-sifat Allah, sifat surga, sifat neraka, kisah-kisah para nabi dan rasul serta hal-hal semisalnya.

Bila kita jumpai baik dalam Al Quran maupun hadis lafadz fiqih dan keutamaan belajar fiqih sebagaimana sabda Rasulullah shalalahu alihi wa sallam,

من يرد الله به خيرا يفقه في الدين

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim

Dan dalam Al Quran Allah subhanahu wata’ala berfirman,

لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي ٱلدِّينِ

“… untuk memperdalam pengetahuan agama mereka…”
(QS, At-Taubah: 122)

Maka yang dimaksud “memahami” dalam nash-nash dalil diatas adalah memamahi agama secara umum.

Ta’rif Al Ishthilahi
Ilmu tentang hukum-hukum syariat yang terkait dengan perbuatan mukallaf.

Manakah makna yang lebih luas, makna istilahi ataukah makna syar’i? Maka jawabannya adalah makna syar’i itu lebih luas dibandingkan makna istilahi

Contoh permisalan, bila seseorang menghadiri sebuah kajian dengan tema sifat surga dan neraka, dan ia paham akan materi tersebut apakah ini dinamakann dengan Al fiqh (paham) ? maka jawabannya iya, namun fiqih disini adalah fiqih dalam konteks makna syar’i, karena kajian tentang sifat surga dan neraka adalah bagian dari ilmu agama. Namun, kajian sifat surga dan neraka tersebut tidak termasuk kategori fiqih secara istilahi.

Contoh lainnya

  • Belajar ilmu mantiq = termasuk fiqih dalam makna bahasa karena ia termasuk ilmu secara umum
  • Belajar tauhid asma’ wa sifat= termasuk fiqih dalam makna syar’i karena ini masuk kedalam keumuman ilmu agama
  • Belajar rukun dan syarat shalat = termasuk fiqih dalam makna istilahi, karena yang dikaji adalaah perbuatan mukalaf terkait hukum-hukum syariat.

Maka bisa kita simpulkan bahwa makna bahasa adalah makna yang luas, makna syar’i adalah makna yang pertengahan dan makna istilahi adalah makna sempit.

Dan makna istilahi inilah yang akan menjadi fokus pembahasan dalam tulisan-tulisan kami berikutnya.

Wallahu ta’ala a’lam

Penulis: Muhammad Fatwa Hamidan (Mahasiswa Sarjana Fak. Syariah Universitas Islam Madinah)

Leave a Reply