Perhatikan Aturan Berikut Ini sebelum Mulai Rekaman Murottal

Tak perlu diragukan lagi, bahwa kemajuan teknologi bagaikan ombak besar yang tidak bisa kita bendung. Jika puluhan tahun yang lalu untuk bisa berjumpa dengan seseorang dibenua lain dan melihat senyumnya kita harus melakukan perjalanan ribuan kilometer, namun sekarang kita bisa melakukannya sembari rebahan diatas kasur yg nyaman.

Menyadari hal ini, satu-satunya pilihan kita adalah mengarahkan kaum muslimin untuk memanfaatkan teknologi yang ada dalam rangka kebaikan. Sebab melarang mereka untuk menggunakan teknologi merupakan hal yang mendekati mustahil.

Ya, memang benar bahwa teknologi tak ubahnya pisau bermata dua. Banyak bahaya dan maksiat yang bisa diakses hanya dengan mengayunkan jari jemari. Namun disinilah peran kita untuk menebarkan kebaikan dibalik teknologi ini.

Diantara upaya yang telah dilakukan ialah dengan membuat rekaman murottal Al-Quran yang sudah jamak kita dapati di zaman ini. Jika dahulu hanya Qori masyhur dan pihak tertentu yang bisa melakukannya, maka di zaman milenial ini, setiap orang bisa merekam bacaan Al-Quran untuk kemudian ia bagikan melalui berbagai media sosial. Tak peduli apakah bacaan yang ia miliki sudah memenuhi standar atau justru masih kalah jauh dari bacaan anak-anak TK yang baru belajar ngaji.

Berangkat dari fenomena diatas, penulis ingin mengajak para pembaca untuk berdiskusi seputar berbagai poin yang perlu diperhatikan sebelum mulai merekam murottal Al-Quran.

Poin pertama: Ikhlas

Ikhlas merupakan kalimat yang amat mudah untuk diucapkan, namun penerapannya tidaklah demikian. Allah ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al-Bayyinah: 5)

Seseorang yang akan melakukan rekaman tentunya sadar bahwa suara merdunya akan berlayar jauh mengarungi samudra dunia maya. Disinilah musuh Allah akan bermain, dimana setan akan berusaha menggoyahkan keikhlasan kita agar kita mengharapkan pujian dari orang lain.

Dalam sebuah hadits yang shohih, Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah menceritakan tentang kelompok orang yang pertama kali akan dilemparkan kedalam api neraka. Dimana diantara mereka adalah seseorang yang ahli dalam melantunkan ayat-ayat Al-Quran. Saat Allah ta’ala bertanya tetang apa yang ia lakukan dengan kemampuannya tersebut, ia menjawab:

كُنْتُ أَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ

“Aku biasa membacanya baik malam maupun di siang hari”

Kemudian Allah ta’ala membantah orang tersebut dengan berfirman:

“Engkau telah berdusta”,

Para malaikat pun mengatakan hal serupa.

“Sungguh engkau melakukan hal tersebu demi mendapatkan pujian manusia bahwa fulan adalah seorang Qori, dan engkau telah mendapatkannya”

Kemudian orang tersebut dilemparkan kedalam neraka. (HR Tirmidzi)

Oleh karenanya, jangan pernah lupa untuk selalu mengecek niat kita dalam beramal sholeh, termasuk saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.

Poin Kedua: Memperhatikan hukum tajwid

Menerapkan hukum tajwid dalam membaca Al-Quran merupakan sebuah kewajiban, sebab Al-Quran diwariskan secara turun temurun dengan tajwid. Seperti itulah sampai kepada kita dari Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dengan sanad yang mutawatir.

Suatu amalan ibadah apapun tak akan bisa diterima kecuali jika memenuhi 2 syarat, yaitu ikhlas dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam, termasuk di dalamnya adalah membaca Al-Quran.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Al-Kahfi: 110)

Poin ketiga: Menjauhi Takalluf

Takalluf atau terlalu memaksakan diri tentunya bukan suatu hal yang baik, pun begitu halnya saat membaca Al-Quran. Orang yang melakukannya memang sejatinya memiliki niat baik, yaitu agar huruf yang diucapkan semakin jelas dan suara yang dihasilkan semakin indah. Namun seringkali orang yang takalluf saat tilawah justru membuat para pendengar menjadi kurang nyaman. Sebab hal tersebut justru memberi kesan bahwa tilawah Al-Quran harus dilakukan dengan memaksakan diri. Belum lagi ia juga akan semakin cepat lelah.

Ibnul Jazari rohimahulloh menuturkan:

مكملا من غير ما تكلف باللطف في النطق بلا تعسف

Poin keempat: Membaca dengan pelan dan tidak terburu-buru

Membaca dengan pelan dan tidak terburu-buru sangat disarankan dalam hal ini, sebab akan mengurangi resiko sang Qori terjatuh pada kesalahan (lahn), baik Jally maupun Khofy. Terlebih lagi rekaman murottal jika sudah tersebar ke dunia maya, maka seringkali sulit untuk ditarik kembali. Tak peduli apakah ada kesalahan yang terjadi saat rekaman atau tidak.

Baca juga: Kode Etik Penghafal Quran #6: Memamahami Kesalahan dalam Membaca Al-Quran (Lahn)

Poin keempat ini sejatinya sejalan dengan firman Allah ta’ala:

أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.

Tartil sendiri memiliki makna membacanya dengan jelas, pelan serta penuh tadabbur, sebagaimana dijelaskan oleh para ahli tafsir.

Secara ringkas, membaca Al-Quran dengan cepat (Hadr) atau dengan ritme sedang (Tadwir) hingga pelan (Tahqiq) tidaklah terlarang, selama memperhatikan hukum-hukum tajwid. Akan tetapi, seseorang yang membaca dengan ritme lebih cepat akan lebih rentan terjatuh dalam kesalahan.

Poin Kelima: Memperhatikan waqof & ibtida

Waqof & ibtida merupakan perkara yang amat penting untuk dikuasai oleh seorang penghafal Al-Quran. Sebab kesalahan dalam hal ini bisa berakibat cukup fatal, dimana hal ini berkaitan dengan makna yang terkandung.

Seorang penyimak murottal tentunya akan merasa kurang nyaman jika mendengarkan bacaan qori yang tidak memperhatikan dimana harus berhenti dan mulai. Padahal tujuan utama diturunkannya Al-Quran adalah agar kita merenungi isi kandungannya. Dan hal tersebut akan sulit untuk diraih jika tak mengindahkan waqof dan ibtida’.

Perhatian ulama terhadap hal ini tidaklah main-main. Terlihat dari banyaknya peninggalan mereka yang bisa kita nikmati hingga saat ini. Diantaranya ialah kitab Al-Muktafa karya Imam Ad-Dani (444 H) dan Manarul Huda karya Al-Asymuni rohimahumalloh.

Poin Keenam: Membaguskan bacaan tanpa berlebihan

Membaguskan bacaan saat membaca Al-Quran merupakan hal yang disyariatkan. Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak melagukan Al Qur’an (HR Bukhori)

Namun perlu digarisbawahi, dalam prosesnya tidak perlu sampai harus memaksakan diri hanya demi membaguskan bacaan Al-Quran. Hal ini justru kadang membuat lelah pembaca maupun orang yang menyimak. Disamping itu, kita hendaknya juga menjauhi nada maupun ciri khas para pemusik. Seputar hal ini sudah pernah kami bahas cukup panjang dalam artikel di bawah ini:

Baca juga: Kode Etik Penghafal Al-Quran #10: Serba-serbi Maqomat dalam Membaca Al-Quran

Semoga Allah subhanahu wata’ala memudahkan langkah kita dalam menjadi penjaga kitabNya.

Referensi:

Al-Itqon fi Dhowabithi Tasjil Al-Quran, Doktor ‘Arofah binti Thonthowi

Leave a Reply