Syarah Kitab Tajwid Paling Tua: Qoshidah Al-Khoqoniyah (Bag.1)

Saat berbicara seputar kitab dalam bidang ilmu tajwid, yang pertama kali terbetik dalam pikiran kita kemungkinan besar adalah matan Al-Jazariyah dan Tuhfatul Athfal. Kemasyhuran dua matan tersebut memang seakan menutupi berbagai kitab lain dalam bidang yang sama. Padahal kitab yang mengkaji ilmu tajwid tak terhitung jumlahnya, salah satunya adalah karya Imam Al-Khoqoni rohimahulloh.

Qoshidah yang dikenal dengan sebutan Al-Khoqoniyah ini didapuk sebagai karya pertama dalam sejarah yang membahas ilmu tajwid secara independen. Adapun sebelumnya, para ulama hanya menyisipkan berbagai pembahasan seputar tata cara membaca Al-Qur’an dalam kitab-kitab mereka.

Sang pengarang yang bernama Abu Muzahim Al-Khoqoni rohimahulloh (wafat 325 H) sejatinya tumbuh dalam keluarga pejabat. Mulai dari sang kakek, ayah, saudara hingga keponakan beliau merupakan sosok yang memegang posisi penting dalam perintahan. Namun alih-alih hidup sebagai orang pemerintahan, beliau justru lebih memilih mengabdikan dirinya untuk ilmu agama.

Husnul Ada, itulah nama kedua yang paling terkenal untuk qoshidah yang berjumlah 51 bait ini. Sebab karya ini memang masuk dalam kategori Al-Aghfal atau karya yang tidak diberikan nama secara langsung oleh pengarangnya. Tak heran jika para ulama berbeda-beda dalam penyebutannya, diantaranya ialah:

  1. Qoshidah Al-Khoqoniyah
  2. Husnul Ada
  3. Qoshidah fi Madhi Al-Qurro’ As-Sab’ah, wa Ta’lim At-Tilawah wa Kaifiyat Al-Qiroah.
  4. Qoshidah Abi Muzahim fi Al-Qiroah
  5. dll

Selain sarat dengan faidah, susunan kalimatnya pun cukup mudah untuk dihafal dan dipahami. Perhatikan bait kelima dan keenam dari qoshidah ini:

Bait kelima dan keenam dari Qoshidah Al-Khoqoniyah

Salah satu bukti yang menunjukkan pentingnya karya satu ini adalah sikap para ulama yg berlomba-lomba untuk meriwayatkan dan mencari sanadnya. Diantaranya adalah:

  1. Abu Bakar Al-Ajurry rohimahulloh (wafat 360 H), beliau menyalin langsung matan ini dengan tangannya lalu mendatangi sang pengarang, Abu Muzahim Al-Khoqoni untuk meminta sanad darinya.
  2. Abul Hasan Al-Anthoki rohimahulloh (wafat 377 H), seorang ulama besar di Andalus yang memiliki andil besar dalam menyebarkan ilmu qiroat disana. Beliau meriwayatkan Qoshidah Al-Khoqoniyah melalui perantara salah seorang gurunya yg bernama Sholih bin Idris Al-Warroq rohimahulloh (wafat 345 H).
  3. Abu ‘Amr Ad-Dani rohimahulloh (wafat 444 H), sosok ulama yang biasa kita jumpai namanya dalam sanad Al-Quran. Salah satu karya beliau yg fenomenal adalah kitab At-Taisir yang nantinya ‘dikonversi’ oleh Imam Asy-Syathibi rohimahulloุง (wafat 590 H) kedalam bentuk mandhumah yang kita kenal dengan matan Asy-Syathibiyah. Beliau meriwayatkan matan Al-Khoqoniyah ini dari 3 ulama kenamaan, yaitu: Abu Thohir Ibnu Gholbun (wafat 399 H), Abul Fath Faris bin Ahmad (wafat 401 H) dan Abu ‘Abdillah Muhammad Al-Baghdadi rohimahumulloh.
  4. Ibnul Jazari rohimahulloh (wafat 833 H), ulama qiroat fenomenal yg sudah tak asing lagi ini meriwayatkan Qoshidah Al-Khoqoniyah ini dari guru beliau yang bernama Abu Hafs Al-Mizzi yg juga dikenal dengan sebutan Ibnu Umaylah rohimahulloh (wafat 778 H).

Adapun sanad penulis untuk matan ini bisa dilihat pada gambar berikut ini:

Sebagaimana umumnya karya-karya pertama dalam suatu bidang ilmu, Qoshidah Al-Khoqoniyah juga tidak mencakup seluruh pembahasan dalam ilmu tajwid, melainkan hanya sebagiannya saja. Disamping membahas ilmu tajwid, sang pengarang juga membawakan nasihat untuk para penuntut ilmu, terutama para penghafal Al-Qur’an. Mulai dari berusaha mengikhlaskan niat, tidak pelit dalam mengajarkan ilmu hingga menjauhi sifat bangga terhadap diri sendiri.

Penjelasan seputar kandungan dari matan ini insyaAllah akan kami paparkan secara terperinci pada beberapa artikel berikutnya. Besar harapan agar faidah tersebut bisa dinikmati oleh kaum muslimin secara lebih luas.

Semoga Allah subhanahu wata’ala memudahkan langkah kita dalam menuntut ilmu. Amiin.

Referensi:
Dirosat Qoshidah Al-Imam Abi Muzahim Al-Khoqoni fi Husni Al-Ada, Hazim As-Sa’id

Leave a Reply