Tips Mendidik Anak agar Hafal Al-Quran


Untuk membaca artikel ini dalam format e-book, silahkan klik link dibawah ini untuk mendownloadnya:

E-book Tips Mendidik Anak agar Hafal Al-Quran

Anak merupakan karunia dari Allah subhanahu wata’ala yang dapat menambah keharmonisan dalam rumah tangga. Setiap orang tua tentu berharap agar buah hati mereka tumbuh menjadi sosok anak yang sholeh dan sholehah. Mereka bercita-cita agar putra putrinya kelak menjadi jauh lebih baik dari orang tuanya.

Namun sungguh amat disayangkan dimana sebagian orang tua justru tidak mengarahkan anaknya untuk menjadi pribadi yang diharapkan. Alih-alih perhatian dengan pembekalan agama, ayah dan ibu justru lebih perhatian dengan hal-hal yang bersifat material. Baju, sepatu, tas serta urusan dunia benar-benar mereka perhatikan, akan tetapi bagaimana dengan masa depan agama mereka?

Fakta yang ada sering kali membuat kita ingin meneteskan air mata, sang anak justru lebih banyak menghafal berbagai lagu dibanding ayat-ayat Al-Quran. Bahkan yang lebih miris, surat Al-Fatihah mungkin belum mereka kuasai dengan baik dan benar.

Pada artikel kali ini, redaksi Qoryatuna berusaha mengetuk hati para orang tua atau para calon orang tua agar mulai menyiapkan pendidikan buah hati mereka dengan benar. Harapannya agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang cinta terhadap agamanya.

Urgensi Hafalan Al-Quran dalam Mendidik Anak

Metode mendidik yang baik adalah mengikuti tahapan-tahapan yang telah dijelaskan oleh para ulama sedari dulu. Dan tahapan pertama yang tak boleh dilewatkan adalah menghafal Al-Quran. Imam An-Nawawi rohimahulloh pernah menuturkan:

وأول ما يبتدئ به: حفظ القرآن العزيز فهو أهم العلوم، وكان السلف لا يعلمون الحديث والفقه إلا لمن حفظ القران

Tahapan pertama dalam memulai (menuntut ilmu) adalah dengan menghafalkan Al-Quran. Dan para ulama terdahulu tidak akan mengajarkan Hadits maupun Fiqh kecuali kepada mereka yang telah hafal Al-Quran

Imam Al-Auzai rohimahulloh tiap kali melihat ada seorang anak duduk di majlisnya, maka beliau akan bertanya:

يا غلام، قرأتَ القرآن؟

Nak, apakah engkau sudah hafal Al-Quran?

Jika jawabannya iya, maka beliau akan meminta anak kecil tersebut untuk membaca firman Allah ta’ala pada surat An-Nisa ayat 11:

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ

Namun jika anak tersebut belum hafal Al-Quran, maka Imam Al-Auza’i rohimahulloh akan memberinak intruksi kepadanya untuk menghafalkan Al-Quran terlebih dahulu.

Nb: Surat An-Nisa ayat kesebelas ini memang terkenal cukup sulit, sehingga cocok sebagai bahan untuk menguji hafalan seseorang.

Diantara rahasianya ialah karena masa kecil merupakan masa keemasan untuk menghafal, sebagaimana sebuah ungkapan yang masyhur bahwa menghafal di waktu dini bagaikan mengukir diatas batu. Disamping itu, hafalan Al-Quran akan memudahkan seseorang dalam mempelajari berbagai ilmu yang lain, sebab Al-Quran itu sendiri merupakan sumber ilmu yang paling utama.

Tips agar Anak Menjadi Penghafal Al-Quran

Terdapat beberapa tips yang disampaikan oleh para ulama agar seorang anak tumbuh menjadi sosok penghafal Al-Quran, diantaranya ialah:

Pertama: Tetap alokasikan waktu untuk bermain, namun secukupnya

Mendidik anak dengan baik bukan berarti memaksanya untuk senantiasa belajar tanpa henti. Namun tujuan sesungguhnya adalah untuk melatih anak agar disiplin dalam mengatur waktunya. Sehingga kita tetap memberikan waktu luang kepada anak untuk bisa bermain.

Selain itu, jika seorang anak terlalu diforsir untuk belajar tanpa jeda, maka ditakutkan ia akan kehilangan fokus dan justru menjadi malas dan berat untuk menghafal. Sebab seorang anak yang masih dalam masa pertumbuhan memang masih sangat butuh terhadap permainan.

Kedua: Jauhkan anak dari gadget

Gadget atau smartphone sudah sangat menjamur di masa sekarang ini. Berbagai manfaat bisa kita dapatkan dengannya. Hanya saja, fakta menyatakan bahwa penggunaan smartphone bagi anak yang masih berada di usia dini amatlah buruk. Sebab penelitian menyatakan bahwa gadget bisa memberikan efek candu pada seorang anak sehingga membuatnya sulit untuk berkonsentrasi.

Oleh karenanya, sosok orang tua yang cerdas adalah mereka yang berusaha menjauhkan putra putrinya dari menggunakan smartphone sebelum waktunya. Berikanlah anak permainan tradisional yang mendidik, bukan gadget.

Ketiga: Doakan buah hatimu

Jangan pernah bosan untuk senantiasa mendoakan sang anak. Sebab doa orang tua untuk anaknya memiliki potensi besar untuk dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Rasululloh sholllallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثَلاثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لا شَكَّ فِيهِنَّ : دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ

Ada 3 jenis doa yang pasti dikabulkan oleh Allah ta’ala tanpa keraguan sedikitpun: Doa orang yang terdzolimi, doa seorang musafir dan doa orang tua untuk anaknya

(HR Ibnu Majah)

Keempat: Jangan terlalu memanjakan anak

Poin keempat ini mungkin cukup sulit bagi sebagian orang tua, terutama para ibu. Sebab seringkali saat si anak menangis, maka mereka akan mengabulkan permohonan buah hatinya meskipun bertentangan dengan tujuan awal pendidikan. Semua itu dilakukan dengan dalih karena tidak tega dan merasa kasihan melihat air mata anaknya.

Padahal justru kasih sayang yang sesungguhnya adalah saat kita tetap memaksa anak untuk disiplin terhadap jadwal yang telah ditentukan. Sebab mungkin ia akan berhenti menangis saat ini, namun sifat manja yang kita berikan bisa jadi akan membuatnya menangisi hari-harinya saat dewasa nanti.

Salah seorang penyair arab yang bernama Abu Tamam rohimahulloh pernah menuturkan dalam bait syairnya:

فَقَسَا لِيَزْدَجِرُوْا وَمَنْ يَكُ حَازِمًا
فَلْيَقْسِ أَحْيَانًا عَلَى مَنْ يَرْحَمُ

Kurang lebih makna dari bait diatas adalah bahwa salah satu bentuk sikap seseorang yang bijak adalah terkadang bersikap tegas kepada orang yang mereka sayangi demi kebaikan di kemudian hari.

Salah seorang kawan kami yang berasal dari Mauritania pernah mengisahkan bahwa semasa kecil sang ayah kerap kali memaksanya untuk menghafal ini dan itu. Mulai dari Al-Quran, setelah itu berpindah ke berbagai matan-matan ilmiah yang lain, begitu seterusnya. Saat itu ia merasa bahwa sang ayah jahat kepadanya karena memaksanya melakukan ini dan itu.

Namun setelah beranjak dewasa, barulah ia menyadari buah dari pendidikan ayahnya dahulu. Hingga lisannya kerap kali berucap: “Semoga Allah ta’ala membalas kebaikan ayahandaku yang telah mendidikku dengan tegas saat masih belia”.

Kelima: Jadilah suri tauladan yang baik

Seorang anak akan menjadikan sosok orang tua mereka sebagai contoh terbaik. Mereka biasa bercita-cita ingin menjadi seperti ayah atau ibunya saat dewasa nanti. Oleh sebab itu, memperbaiki diri sendiri merupakan salah satu metode terbaik dalam mendidik anak. Sebab mereka jauh lebih mudah dalam mencontoh daripada mengikuti perintah.

Disamping itu, kesholehan orang tua akan mampu membuat sang anak terjaga dari berbagai keburukan di masa mendatang. Imam Sa’id bin Al-Musayyib rohimahulloh pernah berkata kepada putra beliau:

لأزيدنَّ في صلاتي من أجلك، رجاء أن أُحفظ فيك

Sungguh aku akan menambah jumlah sholatku demi dirimu, dengan harapan agar Allah ta’ala menjagamu

Kemudian beliau mengutip firman Allah ta’ala pada surat Al-Kahfi:

وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

Dan ayah mereka berdua adalah orang yang sholeh

Keenam: Mulailah dengan surat-surat pendek

Langkah awal dalam melakukan berbagai hal amatlah penting, tak terkecuali dalam menghafal Al-Quran. Sebab langkah yang salah bisa membuat sang anak menarik diri dari kegiatan menghafal.

Mulailah dengan surat-surat pendek yang memang mudah dihafal oleh anak. Seperti contohnya dari surat An-Nas hingga Adh-Dhuha yang memang level kesulitannya meningkat sedikit demi sedikit. Tujuannya adalah agar sang anak tidak merasa kepayahan di awal sehingga terus semangat dan tak mudah putus asa.

Ketuju: Perdengarkan murottal

Mendengarkan murottal akan mempermudah dalam proses menghafal Al-Quran. Sebab saat menggunakan dua indra sekaligus (penglihatan & pendengaran) kualitas hafalan yang dihasilkan insyaAllah akan semakin bermutu. Silahkan download murottal hafalan per halaman pada link dibawah ini:
Murattal (MP3) Al-Quran Per-Halaman (Syeikh Ahmad Khader At Tarabulsi)

Kedelapan: Daftarkan anak ke pusat pembelajaran Al-Quran

Salah satu kiat untuk melancarkan tujuan dalam mencetak generasi qurani adalah dengan mendaftarkan anak ke lembaga pendidikan Al-Quran, seperti TPA, TPQ atau yang semisalnya. Sehingga selepas mengikuti sekolah di pagi hari, ia bisa memanfaatkan waktu sore hari untuk mempelajari Al-Quran sebagai bentuk kegiatan ekstrakurikuler.

Namun bukan berarti peran orang tua hilang begitu saja, sebab selama di rumah, ayah dan ibu harus saling bersinergi untuk mendukung sang anak dalam menghafal Al-Quran.

Penutup

Inilah beberapa tips yang bisa diterapkan oleh para orang tua sebagai bentuk ikhtiar dalam mendidik buah hati mereka menjadi para penghafal Al-Quran.

Semoga Allah subhanahu wata’ala memudahkan kita semua untuk menjadi para penjaga kitabNya yang mulia.Amiin.

Referensi:
Ruh Al-Ma’ani, Al-Alusi
Al-Majmu’, An-Nawawi
Ihya’ Ulum Ad-Din, Al-Ghozali

Al-Jami’ li Akhlaq Ar-Rowi, Al-Khothib Al-Baghdadi
Iqro’ Al-Quran, Dakhil bin Abdulloh Ad-Dakhil

Leave a Reply