Wanita Penghafal Quran #3: Hafshoh Al-Anshoriyah, Wanita yang tak Beranjak dari Tempat Sholatnya selama 30 Tahun

“Aku tak melihat ada yang lebih cerdas darinya”

Itulah ucapan Yahya bin Ma’in dan Iyas bin Mu’awiyah saat menggambarkan wanita satu ini. Kedua ulama mumpuni diatas sepakat untuk mengakui kecerdasannya.

Beliau bernama lengkap Hafshoh binti Sirin Ummu Hudzail Al-Faqihah Al-Anshoriyah hafidzohalloh. Saudari kandung dari seorang ulama yang masyhur, Yahya bin Sirin rohimahulloh.

Kecintaan wanita yang termasuk generasi Tabi’in ini terhadap Al-Quran sudah muncul sejad dini. Terbukti saat masih berusia 12 tahun, beliau mulai menghafalkan kitabulloh.

Semangat beliau dalam beribadah pun patut diacungi jempol, sebaggaimana digambarkann oleh Mahdi bin Maimun rohimahulloh:

مكثت حفصة بنت سيريين ثلاثين سنة لا تخرج من مصلاها إلا لقائلة أو قضاء حاجة

“Selama 30 tahun, Hafshoh binti Sirin tidak meninggalkan tempat ia sholat kecuali saat tidur siang atau menunaikan hajat”

Diantara guru beliau adalah Anas bin Malik, Ummu ‘Athiyah Al-Anshoriyah, Ar-Robab Ummu Ar-Roih, Abu Al-‘Aliyah, Yahya bin Sirin rohimahumulloh dan masih banyak lagi.

Sedangkan diantara murid beliau adalah Qotadah, ‘Ashim Al-Ahwal, Kholid Al-Hadzza hingga saudara beliau sendiri yang bernama Muhammad bin Sirin rohimahumulloh.

Para ulama hadits kerap menukil biografi beliau dalam kitab mereka, hal ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa ilmu hadits tak hanya dikuasai oleh para lelaki saja.

Yahya bin Ma’in rohimahulloh pernah memuji beliau sebagai sosok wanita yyang Tsiqotun Hujjah (amat terpercaya). Imam Bukhori rohimahulloh membawakan lebih dari 10 hadits dalam kitabnya yang melalui jalur Hafshoh binti Sirin. Sedangkan Imam Muslim menyertakan sekitar 7 buah hadits dalam kitab shohihnya.

Berharap Wafat di Tengah Wabah

Suatu ketika Anas bin Malik rhodiyallohu ‘anhu pernah betanya kepada wanita mulia ini:

بأي شيء تحبين أن تموتي؟

“Dalam keadaan seperti apa engkau ingin wafat”

Tanpa diduga beliau menjawab:

“Aku ingin wafat karena wabah Tho’un”

Jawaban diatas merepresentasikan keinginan beliau untuk menjadi seorang wanita yang mati syahid. Sebab Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ

“Siapa yang meninggal karena penyakit Tho’un (kolera) maka ia mati syahid” (HR Muslim)

Memakai Niqob hingga Lanjut Usia

Meskipun sudah lanjut usia, Hafshoh binti Sirin tetap istiqomah untuk memakai niqob/cadar. Padahal Allah subhanahu wata’ala memberikan keringanan pada wanita yang lanjut usia dalam masalah ini. Hal tersebut lantas membuat heran beberapa orang yang berkunjung ke kediamannya hingga bertanya:

رحمك الله، قال الله تعالى: وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاء اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَن يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ

“Semoga Allah ta’ala merahmatimu, bukankah Allah ta’ala telah berfirman : (“Perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan,”) (QS. An-Nur: 60)

Beliau kemudian balik bertanya:

“Apa kelanjutan dari ayat tersebut?”

Para tamu kemudian melanjutkan firman Allah pada surat An-Nur diatas:

وَأَن يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَّهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ


“Dan bersifat Iffah (menjaga kesucian) adalah lebih baik bagi mereka

Hafshoh yang kala itu sudah menginjak usia senja kemudian berkata:

ini adalah dalil untuk tetap menjaga aurat (bagi wanita tua, dan hal tersebut lebih baik).

Allah subhanahu wata’ala mengaruniakan umur yang cukup panjang kepada ulama wanita satu ini, yaitu lebih dari 70 tahun. Beliau wafat sekitar tahun 101 hijriyah.

Semoga Allah subhanahu wata’ala mengaruniakan kepada kita putra-putri yang hafal  Al-Quran. Amin.

Referensi:
Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi

Leave a Reply