Wanita Penghafal Quran #4: Ummu Sholih, Hafal Quran di usia 70 Tahun

“Kebanyakan wanita yang menginjak usia senja akan merasa kesepian setelah wafatnya suami serta anak-anaknya menikah, namun hal tersebut tak terjadi padaku, sebab aku telah disibukkan dengan suatu hal yang agung (Al-Quran)”

Itulah ‘testimoni’ dari Ummu Sholih,  wanita yang telah berhasil mengkhatamkan hafalan Al-Quran di usia senja. Hari-hari tuanya ditemani oleh kitabulloh yang tak akan pernah membuat bosan siapapun yang membacanya. Imam Asy-Syatibi rohimahulloh pernah menuturkan:

وخير جليس لا يمل حديثه
وترداده يزداد فيه تجملا

Al-Quran adalah teman terbaik yang tak pernah membuat bosan, mengulang-ulangnya justru semakin menambah keindahannya”

Mulai Mengenal Al-Quran

Ummu Sholih sejatinya lahir ditengah keluarga yang penuh perhatian terhadap Al-Quran, hal ini terlihat dari sang ayah dan saudara-saudaranya yang sudah lebih dahulu menghafal Al-Quran. Sang ayah pun senantiasa memberikan motivasi agar ia tumbuh menjadi seorang Hafidzoh.

Saat usia masih kurang dari 13 tahun, ia mulai mencoba menghafalkan Al-Quran sedikit demi sedikit hingga mencapai kurang lebih 3 juz. Namun hal tersebut berakhir saat seorang lelaki yang nantinya menjadi suami dan ayah dari putra-putrinya datang melamar.

Sebenarnya sang suami tak pernah mencegahnya untuk melanjutkan perjalanan menghafal Al-Quran. Akan tetapi kesibukan mengurus rumah tangga sudah cukup banyak menyita waktunya, terlebih saat anggota keluarganya semakin bertambah banyak. Sebab beliau memang dikaruniai keturunan yang cukup banyak, yaitu 7 orang anak.

Kesibukan dalam mengurus rumah tangga seakan tak ada habisnya, terutama saat Allah subhanahu wata’ala memanggil sang suami untuk selama-lamannya. Menjadi orang tua tunggal dengan 7 anak yang masih belia tentu saja tak mudah bagi siapapun. Oleh sebab itu ia masih tak memiiliki  waktu untuk melanjutkan hafalan Al-Quran.

Kembali Dekat dengan Al-Quran

Saat putra-putrinya beranjak dewasa, merekapun akhirya memutuskan untuk mengarungi bahtera rumah tangga masing-masing. Hingga tersisa putri bungsunya yang belum berkeluarga. Dari putri kesayangannya inilah semangat beliau untuk kembali mmenghafal Al-Quran kembali membara. Sebab selain memotivasi, putrinya ini juga ikut menyertai sang ibu dalam proses menghafal.

Kebanggan Ummu Sholih terhadap anak sulungnya ini terlihat amat jelas, ia pernah bercerita:

“Putri sulungku adalah seorang guru di Madrasah Tsanawiyah, ia adalah anak yang paling dekat dan paling kucintai. Sebab saat keenam saudaranya sudah menikah dan tinggal sendiri, ia masih tetap tinggal bersamaku. Ia adalah sosok wanita yang tenang, istiqomah serta cinta kebaikan”

Semangat putrinya untuk menjadi seorang hafidzoh pun tak muncul begitu saja. Akan tetapi bermula dari para guru di tempatnya mengajar yang sering ‘memanas-manasi’ dirinya untuk meraih predikat tersebut. Dari sinilah kita bisa melihat pentingnya memilih teman-teman yang sholih.

Perjalanan Menghafal Al-Quran

Sikap istiqomah merupakan kunci penting dalam mengarungi samudra Al-Quran. Hal tersebut menjadi bekal utama bagi Ummu Sholih dan sang putri dalam menghafalkannya. Sebab suatu langkah yang pelan namun konsisten jauh lebih baik daripada berlari kencang namun hanya berlangsung sekali.

Terhitung hampir setiap hari kedua wanita ini menghafalkan 10 ayat Al-Quran ba’da ashar. Dimulai dari sang putri yang membaca dan Ummu Sholih mengikuti dan mengulanginya sebanyak 3 kali. Tak cukup sampai disitu, putrinya tersebut juga menjelaskan tafsir singkat dari ayat yang telah dibaca. Kemudian di akhir majlis, ayat tersebut kembali diulang sebanyak 3 kali.

Pada keeseokan harinya, mereka berdua akan mengulang 10 ayat yang telah dihafal sebelum sang putri berangkat mengajar. Selain itu, ia juga menyiapkan rekaman murottal berulang dengan suara Syaikh Al-Hushoiri rohimahulloh agar sang ibunda dapat mendengarkannya.

Kegiatan ini berlangsung setiap hari kecuali hari jumat. Sebab hari ini dikhususkan untuk murojaah 60 ayat yang telah dihafal selama satu minggu.

Khatam Al-Quran

Selama kurang lebih empat setengah tahun, Ummu Sholih dan putrinya berhasil menambah hafalan sebanyak 12 juz dengan metode yang telah diattas. Kegiatan mulia ini tetap berlangsung meskipun sang putri telah menikah. Sebab suaminya justru sangat mendukung kegiatan menghafal ini. Bahkan ia rela menyewa rumah yang berdekatan dengan rumah Ummu Sholih agar tetap bisa melanjutkan hafalan berdua. Pria terrsebut juga kerap hadir menyimak dan terkadang ikut menjelaskkan tafsir dari ayat yang tengah dihafal.

Tak terasa, 3 tahun pun berlalu. Kesibukan putrinya semakin bertambah lantaran hadirnya buah hati. Hal ini membuat kebiasaan menghafal bersama terhenti.

Sang putri yang tak rela jika ibundanya terhenti dari menghafal pun memikirkan alternatif lain. Ia akhirnya menemukan sebuah madrasah yang bisa menggantikannya untuk menyertai sang ibu menyelesaikan hafalan. Dengan taufiq dari Allah subhanahu wata’ala, Ummu sholih berhasil menyelesaikan hafalan Al-Quran.

Metode Murojaah

Saat ditanya tentang kesulitan dalam murojaah Al-Quran, Ummu Sholih menjawab:

“Aku membiasakan diri mendengarkan murottal Al-Quran sembari mengikuti bacaan sang Qori. Disamping itu aku juga berusaha membaca surat yang panjang saat sholat. Terkadang aku juga meminta salah seorang putriku untuk menyimak hafalanku”

Mulai Menghafal Hadits

Meskipun sudah berusia senja, nyatanya Ummu Sholih tak puas hanya menghafal Al-Quran saja. Beliau juga mulai menghafalkan hadits-hadits Nabi Muhammmad shollallohu ‘alaihi wasallam. Beliau memanfaatkan beberapa kaset rekaman dalam proses menghafal. Dalam satu minggu, tak kurang dari 3 hadits berhasil  dihafal.

Menjadi Teladan Bagi Orang Lain

Perjalanan Ummuu Sholih dalam menghafal Al-Quran banyak menginnspirasi orang-orang disekitarnya, terutama keluarga beliau sendiri. Salah satu contoh nyatanya adalah munculnya inisiatif untuk mengadakan halaqot yang berlangsung selama satu jam sebelum acara mingguan keluarga. Pun begitu dengan para tetangga yang mulai tertarik untuk ikut menghafal.

Nasehat untuk Para Remaja

Berikut adalah nasehat Ummu Sholih kepada para remaja:

احفظي الله يحفظك , استغلي نعمة الله عليك بالصحة والعافية وسبل الراحة في حفظ كتاب الله – عز وجل – . هذا النور الذي يضيء لك قلبك وحياتك وقبرك بعد مماتك، وإن كانت لك أم فاجتهدي في تعليمها، والله ما رزقت الأم بنعمة أحب إليها من ولد صالح يعينها على التقرب إلى الله – عز وجل –

“Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Manfaatkanlah nikmat sehat dan waktu luang yang telah Allah ta’ala berikan dengan menghafalkan Al-Quran. Sebab ia adalah cahaya yang akan menyinari hati, kehidupan hingga kuburmu kelak. Jika engkau masih memiliki ibu, maka usahakanlah untuk mengajarinya. Demi Allah, tak ada nikmat yang lebih besar bagi seorang ibu melebihi anak sholeh yang senantiasa membantunya dalam mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Penutup

Tak ada kata terlambat untuk menghafal Al-Quran, hal tersebut telah dibuktikan oleh Ummu Sholih. Mari tanamkan semangat untuk menjadi penjaga kitabulloh mulai saat ini. Semoga Allah subhanahu wata’ala memudahkan langkah kita dalam meraih predikat sebagai Ahlulloh. Amiin.

Sumber: saaid.net

Leave a Reply