Wanita Penghafal Quran #5: Ummu Sa’ad, Wanita Pemilik Sanad Al-Quran Tertinggi di Dunia

“Aku hafal Al-Quran layaknya menghafal namaku sendiri”

Itula ‘testimoni’ Ummu Sa’ad rohimahalloh setelah lebih dari 60 tahun tak pernah melewati hari tanpa Al-Quran. Beliau juga melanjutkan: “Terus mengulang hafalan Al-Quran selama 60 tahun membuatku tak lupa sedikitpun. Setiap ayat, juz dan surat serta berbagai ayat yang memiliki kemiripan dapat kuingat dengan baik. Tak pernah terpikir bahwa aku akan melupakan hafalan Al-Quran”

Hal ini tentunya merupakan sebuah prestasi yang luar biasa. Sebab istiqomah dalam menghafal Al-Quran dan menjaganya memang tak semudah membalik telapak tangan. Butuh usaha dan semangat pantang menyerah.

Wanita kelahiran Mesir tahun 1925 Masehi ini sudah membuktikan dengan jelas bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi “Al-Quran berjalan”. Belum lagi jika menilik lebih dalam biografi beliau, kita akan semakin dibuat takjub dengannya.

Kehilangan Penglihatan sejak Kecil

Saat masih balita, beliau sudah mendapatkan ujian dari Allah subhanahu wata’ala berupa penyakit yang menimpa kedua matanya. Ekonomi yang pas-pasan membuat kedua orang tua beliau tak mampu untuk menerima pengobatan dari rumah sakit. Tak ada pilihan lain, merekapun berusaha menyembuhkannya dengan berbagai obat tradisional yang ada.

Namun Allah subhanahu wata’ala berkehendak lain, Ummu Sa’ad kecil yang saat itu baru menginjak umur satu tahun harus rela kehilangan kedua penglihatannya. Kesedihan yang amat mendalam tentu menusuk ke lerung hati ayah dan ibunya. Akan tetapi keduanya kemudian membuat keputusan yang mungkin akan disyukuri oleh sang putri seumur hidupnya: Mengarahkan Ummu Sa’ad untuk menjadi seorang penghafal Al-Quran.

Ya, menghafal Al-Quran tak mengharuskan kita memiliki indra penglihatan yang sempurna. Sebab Allah subhanahu wata’ala masih memberikan indra lain yang bisa dimanfaatkan untuk menghafal.

Perjalanan menghafal Al-Quran sudah dimulai sejak dini dan atas izin Allah subhanahu wata’ala, Ummu Sa’ad berhasil menyelesaikan hafalan saat masih berumur 15 tahun. Prestasi gemilang ini tak lantas menyudahi perjalanan beliau bersama Al-Quran. Semangat untuk terus mempelajarinya justru semakin membara. Tanpa pikir panjang, beliau segera bergegas menuju salah seorang Syaikhoh yang masyhur kala itu, Nafisah binti Abil ‘Ala Al-Iskandariyah rohimahalloh. Tujuannya jelas, yaitu untuk mempelajari Qiroah ‘Asyroh sekaligus mewarisi silsilah yang amat mulia: sanad Al-Quran.

Sejarah mencatat bahwasanya Ummu Sa’ad mendapat kemuliaan untuk menjadi salah satu dari segelintir wanita yang berhasil meraih sanad tertinggi di abad ke-20. Sebab jumlah silsilah yang menyambungkan antara beliau dengan Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam hanya 27 orang dalam riwayat Hafs.

Menikah dengan Salah Satu Muridnya

Setelah cukup lama hidup seorang diri, Ummu Sa’ad akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran salah seorang muridnya. Lelaki yang amat beruntung tersebut bernama Syaikh Muhammad Farid Nu’man rohimahulloh yang juga merupakan Qori ternama di kota Alexandria.

“Ia adalah seorang lelaki yang sudah hafal Al-Quran sejak belia. Aku mengajarinya qiroat selama 5 tahun. Kondisinya pun sama sepertiku yang tak bisa melihat. Sesaat setelah mengkhatamkan qiroah ‘asyroh dan mendapatkan sanad dariku, ia langsung meminangku untuk menjadi istrinya”. Ucap Ummu Sa’ad menceritakan kisah pernikahannya.

Allah subhanahu wata’ala tidak mengaruniakan keturunan kepada beliau meskipun telah menikah selama lebih dari 40 tahun. Beliau menuturkan:

الحمد لله.. أشعر بأن الله تعالى يختار لي الخير دائمًا.. ربما لو أنجبت لانشغلت بالأولاد عن القرآن وربما نسيته

“Segala puji bagi Allah, aku merasa bahwa Allah ta’ala senantiasa memilihkan yang terbaik bagiku. Bisa jadi jika memiliki anak, aku justru akan terlalu sibuk dan membuatku lupa terhadap Al-Quran”

Safar ke berbagai Negri

Setelah menghabiskan waktu yang cukup panjang untuk mengajarkan Al-Quran di Mesir, Ummu Sa’ad mendapatkan kesempatan untuk bersafar ke berbagai negri.

Daerah pertama yang menjadi tujuan safar beliau adalah Saudi Arabia dan bermukim selama kurang lebih 2 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, para penuntut ilmu berbondong-bondong mengunjungi beliau untuk bisa talaqqi Al-Quran dan mewarisi sanad beliau.

Kemudian pada tahun 2004, beliau berkesempatan untuk mengunjungi Kuwait atas undangan resmi dari kementrian Wakaf. Beliau tinggal di negri tersebut selama dua setengah tahun dalam rangka mengajarkan ilmu qiroat.

Tak lama setelahhnya beliau segera bersafar menuju Bahrain dengan maksud yang sama. Hanya saja beliau tak tinggal lebih dari 2 bulan lantaran penyakit yang beliau derita kala itu.

Murid Beliau

Ummu Sa’ad menelurkan cukup banyak murid yang nantinya menjadi para ahli dalam bidang ilmu Qiroat, diantara mereka adalah: Syaikh ‘Adil Al-Kalbani, Syaikh Ahmad Nu’aini, Syaikh Usamah Al-Abashiri serta masih banyak lagi murid beliau yang tersebar di penjuru dunia.

Syaikh Muhammad Ismail pernah menuturkan: “Beliau merupakan satu-satunya wanita yang amat menguasai qiroah asyroh dan menghabiskan lebih dari 60 tahun untuk mengajarkannya”.

Tak mengherankan jika saat ini nama beliau tersebar luas di berbagai sanad Al-Quran serta sanad mutun tajwid yang ada saat ini.

Wafat

Ummu Sa’ad menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 16 Romadhon tahun 1427 H di kota Alexandria, Mesir.

Semoga Allah subhanahu wata’ala memudahkan kita untuk menjadi penghafal Al-Quran. Amiin.

Referensi:
Ummu Sa’ad: Imroah ‘Asyat li Khidmati Kitabillah, Manal Al-maghribi

Leave a Reply